Tafsir Pendekatan Syair: Surah Al-Fatihah Ayat 7 Oleh: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Abu Akrom)

Tafsir Pendekatan Syair: Surah Al-Fatihah Ayat 7

Oleh: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Abu Akrom)


1. Bacaan Ayat dan Syair Pengantar

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

"Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)  


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Thôhâ Rosûlillâh


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Yâsîn habîbillâh


Lurus yang Engkau ridhai, nikmat setiap hari


Jalan agama Islam yang suci, dalam hati kuat terpatri


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Thôhâ Rosûlillâh


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Yâsîn habîbillâh


2. Makna Jalan yang Lurus (Shirotalladzina An'amta 'Alaihim)

Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah jalan penuh nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh dan salihah, yang beriman serta berdakwah, dan yang senantiasa hidup selaras dengan nilai-nilai ajaran agama.


Pokoknya, seluruh ajaran agama Islam itu semuanya lurus. Benar, tidak ada yang melenceng atau salah. Bagi siapa saja yang betul-betul menjadikan agama Islam sebagai panduan dalam kehidupannya, maka hidupnya pasti akan berada dalam keadaan selamat, berkah, dan bahagia dari dunia sampai akhirat.


Menjadikan Agama sebagai Panggilan Jiwa

Nilai-nilai agama ini harus terpatri dan menjadi panggilan jiwa kita. Seringkali kita mengaku beragama Islam, tetapi pengakuan itu baru terdokumentasi di KTP saja, belum masuk sepenuhnya ke dalam hati.


Orang yang hatinya terpanggil oleh agama tentu ringan menjalankan perintah-perintahnya, sekecil apa pun itu. Contohnya adalah tersenyum. Senyum adalah bagian dari ajaran agama dan termasuk dalam jalan yang lurus. Namun, ada sebagian orang yang berat untuk sekadar tersenyum kepada saudaranya karena hatinya sedang sakit atau ada ganjalan. Padahal, senyum bisa melegakan hati dan mencairkan suasana.


Maka, kita belajar agama mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Bagaimana kita bisa menegakkan syariat yang besar jika hal-hal kecil saja diabaikan? Latihlah diri dari yang kecil, tingkatkan terus secara istiqomah, hingga kelak ketaatan menjadi suatu kebiasaan yang mendarah daging.


Secara teori, kita mungkin sudah salat. Namun, mengapa masih ada orang yang salat tetapi akhlaknya belum sepenuhnya sejalan? Karena salat itu belum sepenuhnya menjadi panggilan jiwa dan pencerahan hati. Jangan jadi "Islam KTP", melainkan jadilah Muslim yang sejati secara lahir maupun batin. Jangan sampai hidup kita tidak memiliki nilai karena tidak menjadikan agama sebagai sumber dalam segala hal: sumber hukum, sumber pengambilan keputusan, cara bersikap, beradab, dan beribadah.


3. Teladan di Jalan yang Lurus

Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Thôhâ Rosûlillâh


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Yâsîn habîbillâh


Seorang yang betul-betul mengamalkan ajaran agama tentu meneladani para nabi—khususnya Nabi Muhammad SAW—serta orang-orang saleh terdahulu. Mereka adalah pihak pertama yang mencontohkan bagaimana beragama dengan baik, baik dalam kehidupan individu, keluarga, maupun masyarakat luas. Agama kita sampai kepada kita melalui bimbingan para nabi.


Siapa lagi pengikut jalan yang lurus selain para nabi?


Orang-orang yang jujur (Siddiqin)


Orang-orang yang saleh


Para syuhada (orang-orang yang mati syahid)


Mereka hidup mengabdikan diri hanya untuk agama, bangsa, dan negara. Mereka tidak menjalani hidup secara asal-asalan, melainkan konsisten di atas jalan Allah sehingga selalu diberikan solusi, kemenangan, dan keberkahan.


Tidak ada satu masalah pun dalam hidup ini yang tidak memiliki solusi di dalam Islam, karena Allah SWT pasti akan memberikan pertolongan-Nya kepada hamba yang membela agama-Nya. Terkadang, ada yang menganggap agama ini kuno, agama untuk orang miskin atau tidak berpendidikan. Padahal, agama adalah di atas segalanya. Bahkan para syuhada rela mengorbankan nyawanya demi membela agama Allah SWT. Begitu luar biasanya keimanan seorang hamba!


4. Menjauhkan Diri dari Jalan yang Dimurkai (Ghairil Maghdubi 'Alaihim)

Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Thôhâ Rosûlillâh


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Yâsîn habîbillâh


Hidup ini memiliki dua pilihan: diridhai atau dimurkai. Jika ingin diridhai, ikutilah tuntunan agama bersama golongan para nabi, orang saleh, dan orang jujur.


Sebaliknya, siapa golongan yang dimurkai? Mereka adalah orang-orang yang durhaka dan enggan mengikuti ajaran para nabi. Konsekuensinya sangat jelas. Jika kita tidak mengikuti teladan para nabi, kepada siapa lagi kita akan melangkah? Jangan sampai kita mengikuti jalannya orang-orang yang buruk.


Sebagai manusia yang terkadang merasa tidak enakan (pakewuh), kita harus berhati-hati dalam pergaulan. Jangan sampai karena rasa tidak enak, kita ikut-ikutan terjerumus ke dalam perbuatan yang salah atas nama toleransi yang keliru. Standar hidup kita adalah para nabi dan orang saleh, bukan mengikuti standar hidup yang menyimpang dari aturan agama.


5. Menjauhkan Diri dari Jalan yang Sesat (Walad-Dallin)

Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Thôhâ Rosûlillâh


Sholâtullâh salâmullâh ‘alâ Yâsîn habîbillâh


Jalan yang sesat adalah jalan yang menyimpang jauh—ke timur dan ke barat—seperti jalan orang-orang yang mengikuti godaan setan dan iblis. Setan tidak pernah mengajak kepada kebaikan secara murni; kalaupun tawarannya terlihat manis, manis di bibir, ujungnya pasti akan mendatangkan celaka.


Bisikan setan seringkali dibungkus dengan hal-hal yang melenakan:


"Ah, tidak usah salat, main HP saja dulu..."


"Ambil saja uang rakyat sedikit, tidak apa-apa, tidak ada yang tahu..."


Jika setan membisikkan sesuatu secara kasar atau terang-terangan buruk, tentu kita akan langsung menolaknya. Namun, setan menggunakan tipu daya yang halus, menyerupai hal yang manis padahal itu adalah bentuk pelanggaran hukum dan norma.


6. Kesimpulan: Menyesuaikan Diri dengan Agama, Bukan Mengatur Agama

Prinsip utama dalam beragama adalah kita yang harus menyesuaikan diri dengan nilai-nilai agama, bukan agama yang kita sesuaikan dengan hawa nafsu kita.


Agama adalah panduan baku yang tidak bisa diubah-ubah sesuka hati. Al-Qur'an dan Hadis sudah paten dari Allah SWT. Sebagaimana sebuah produk buatan pabrik yang memiliki buku panduan (manual book), alam semesta beserta isinya ini adalah ciptaan Allah, dan Allah yang paling tahu aturan mainnya. Kita tidak boleh lancang mengotak-atik ayat atau hukum Allah demi kepentingan manusia.


Mari kita jaga komitmen keimanan kita dengan ikrar La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah, menjadikan Islam sebagai acuan utama dalam melangkah, bersikap, dan beribadah. Semoga istiqomah hingga akhirnya Allah SWT menjemput kita dalam keadaan Husnul khatimah.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"

Silaturahim dan Temu Kangen Alumni MTSN Mataram Angkatan 1983: Kenangan Lama dan Kehangatan Persahabatan