Menjadi Hamba Ar-Rahman atau Pengikut Kesombongan?
Menjadi Hamba Ar-Rahman atau Pengikut Kesombongan? Mengutip uraian pengajian Syaikh Muhammad Zainul Majdi dalam acara silaturahmi dan buka bersama di Ma’had Fityanul Ulum, beliau memulai ceramahnya dengan mengajak hadirin merenungkan kembali karakter ‘Ibadur Rahman sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an , Surah Al-Furqan ayat 63: وَعِبَادُ الرَّحْمَـٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” TGB menekankan bahwa ciri pertama ‘Ibadur Rahman adalah cara mereka berjalan di muka bumi dengan haunan —tenang, tawadhu’, tidak angkuh, dan tidak membusungkan dada. Kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan. Ia mencerminkan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba, bukan pemilik mutlak kekuasaan. Setelah menggambarkan kemuliaan sikap tawadhu’, beliau menghadirkan kontrasnya: sifat sombong. Orang yang sombong, menurut ...