Skip to main content

Khutbah Jumat Edisi 30 Juli 2026: Indahnya Kehidupan yang Saling Menolong dalam Kebaikan

 Khutbah Jumat Edisi 30 Juli 2026: Indahnya Kehidupan yang Saling Menolong dalam Kebaikan

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَجَعَلَهُ فِيْ حَاجَةٍ إِلَى أَخِيْهِ لِيَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، المَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan umatnya yang setia hingga akhir zaman. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, karena sebaik-baik bekal saat kita kembali kepada-Nya kelak hanyalah takwa.

Jamaah rahimakumullah,

Mari sejenak kita menundukkan hati, melihat ke dalam diri kita masing-masing. Siapapun kita hari ini—sehebat apapun jabatan yang kita genggam, sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, setinggi apapun ilmu yang kita miliki—sadarkah kita bahwa sejatinya kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri?

Kita adalah makhluk yang sangat lemah. Jangankan untuk urusan besar, untuk hal yang paling kecil dan remeh sekalipun, kita pasti membutuhkan uluran tangan orang lain. Jauh sebelum kita menghirup udara di bumi Allah ini, saat kita masih berupa janin di dalam kegelapan rahim, kita sangat bergantung pada seorang ibu. Melalui tubuh ibulah kita makan, kita tumbuh, dan bertahan hidup selama kurang lebih sembilan bulan lamanya.

Lalu, tibalah hari di mana kita terlahir ke dunia. Apakah kita keluar dengan sendirinya? Tidak, hadirin sekalian. Kita butuh bantuan bidan atau dokter yang bersimbah peluh menyelamatkan nyawa ibu dan diri kita. Saat kita lahir sebagai bayi yang merah, menangis, dan tak berdaya, kita sangat membutuhkan dekapan hangat, cinta, dan air susu dari ibu serta perlindungan ayah kita.

Setahun, dua tahun berjalan, secara bertahap kita diajari melangkah, diajari berbicara, dan diajari mengenal dunia. Bahkan hingga detik ini, ketika kita sekolah, ketika kita bekerja mencari nafkah, hingga kita menikah dan membangun keluarga, orang lain selalu hadir menopang jalan cerita kehidupan kita.

Lebih jauh lagi, renungkanlah saat kelak malaikat maut menjemput kita. Saat nafas terakhir berhembus dan tubuh kita terbujur kaku. Bisakah kita memandikan jasad kita sendiri? Bisakah kita mengkafani diri kita sendiri? Bisakah kita menggali liang lahat kita sendiri? Tidak! Kita butuh orang lain. Kita butuh tetangga dan saudara kita untuk memandikan kita, menyalatkan kita, dan memikul keranda kita menuju peristirahatan yang terakhir.

Ketika kita telah terbaring sendirian di alam kubur yang gelap dan sempit, apakah kita berhenti membutuhkan orang lain? Tidak. Kita terus merintih, menanti-nanti kiriman doa dari anak-anak dan saudara kita, serta menanti aliran sedekah jariyah yang pernah kita titipkan lewat tangan orang lain. Dan puncaknya, di Padang Mahsyar kelak, kita sangat fakir dan butuh pertolongan. Kita sangat mengharapkan syafaat dari teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, agar kita diperkenankan masuk ke surga-Nya, menatap wajah Allah, dan berkumpul bersama para rasul serta orang-orang shalih dalam kenikmatan abadi.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Betapa mutlaknya ketergantungan kita kepada orang lain. Oleh karena itu, sungguh sangat sombong jika ada manusia yang merasa bisa hidup sendiri dan hanya mementingkan ego serta kepentingan pribadinya. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang saling membutuhkan inilah yang membuat Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bahu-membahu dalam kebaikan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."

Menolong orang lain sejatinya adalah menolong diri kita sendiri. Manakala kita membantu mereka yang dalam kesulitan, sejatinya ada rahmat Allah yang turun pada saat itu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

"Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya."

Bahkan, baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam menegaskan dalam hadis riwayat At-Thabrani, tentang siapa manusia yang memiliki kedudukan paling mulia:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Hadis ini adalah pedoman agung. Kemuliaan kita tidak diukur dari apa yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa banyak kita memberi arti bagi orang lain. Bantuan itu tak melulu soal harta. Jika ada harta, bantulah dengan harta. Jika tidak punya, bantulah dengan tenaga. Jika tenaga tak mampu, bantulah dengan lisan dan pemikiran yang baik. Dan jika itupun tak bisa, bantulah saudara kita dengan doa tulus di keheningan malam.

Bahkan keindahan dari sikap saling berbagi ini diakui oleh kebijaksanaan di berbagai belahan dunia. Terdapat sebuah pepatah berbahasa Inggris yang sangat mendalam maknanya:

"We make a living by what we get, but we make a life by what we give."

(Kita menyambung hidup dari apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan yang sesungguhnya dari apa yang kita berikan).

Hadirin sekalian,

Dari sabda Nabi Muhammad ﷺ kita belajar tentang puncak kemuliaan manusia, dan dari pepatah tadi kita disadarkan betapa indahnya kehidupan yang dihiasi dengan uluran tangan. Inilah pangkal terciptanya kedamaian, kerukunan, dan persatuan umat.

Oleh karena itu, jadilah pribadi yang ringan tangan. Jangan biarkan penyakit egois bersarang di dada kita. Mari meraih kebaikan bersama-sama, meraih kesuksesan bersama-sama, dan meraih keberkahan hidup bersama-sama.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu peka terhadap kesulitan sesama, serta memampukan kita menjadi hamba yang gemar menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, sesuai dengan batas kemampuan yang kita miliki.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَافْعَلُوْا الْخَيْرَاتِ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَتَعَاوَنُوْنَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَتَعَاوَنُوْنَ عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Jakarta, 15 Shafar 1448 H/30 Juli 2026

DATA PENULIS

  • Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)

  • Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)

  • Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.

  • Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.

  • Karya: Penulis 25 buku & Pencipta 12 album lagu religi.

  • Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV

  • Kontak: 0878-8727-0732

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"

Khutbah Jumat: Waktu adalah Amanah, Jangan Disia-siakan