Conversation with Gemini

 
 
 
 
 
 

Gemini said

Berikut adalah transkrip wawancara antara Kru Media SinarLIMA dengan Bapak Helmi Wahyudin, M.Pd. (Konsultan Pendidikan dan Bilingual Yayasan Pendidikan Acprilesma).

Wawancara ini berlangsung dalam suasana yang hangat, interaktif, dan penuh semangat di Aula Graha Acprilesma Lantai 1, bertepatan dengan acara Rapat Koordinasi Panitia / Rapat Kerja (Raker) pada Selasa, 7 Juli 2026.

TRANSKRIP WAWANCARA MEDIA SINARLIMA

Kru SinarLIMA:

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Bapak, mohon izin memperkenalkan diri kepada pemirsa kita. Ini dengan siapa, dan selaku konsultan apa tadi di lingkungan program Yayasan Acprilesma Sekolah Laboratorium Jakarta? Termasuk sebagai konsultan pendidikan juga, ya, Pak? Kemudian, dengan adanya amanah dan tugas baru ini, apa yang pertama kali ada di pikiran Bapak? Mungkin bisa diinformasikan kepada pemirsa kita.

Bapak Helmi Wahyudin:

Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ya, terima kasih. Jadi, program bilingual ini sebetulnya menjadi satu tuntutan bagi sekolah-sekolah di abad ke-21. Kalau kita bicara terkait bagaimana tantangan global di abad 21, sebetulnya sudah tidak ada lagi sekat-sekat antarnegara atau batas tertentu. Semua orang bisa berinteraksi secara global.

Ketika interaksi sudah bersifat global, maka menjadi satu kebutuhan di mana pun mereka berada untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa global. Nah, sebagaimana yang kita ketahui, bahasa global sejak zaman dulu yang disebut dengan lingua franca adalah bahasa Inggris. Bahasa Inggris itulah yang digunakan secara global. Sehingga ke depan, saya pikir penguasaan bahasa Inggris ini memang menjadi satu hal yang sangat penting untuk dikuasai oleh anak-anak kita, sebagai bekal mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat global sekaligus memperluas cakrawala keilmuan mereka di dunia masa depan.

Kru SinarLIMA:

Berarti untuk di Sekolah Laboratorium Jakarta ini baru tahap awalnya, ya? Mulai dari mana dan bagaimana langkah strategis yang akan diambil dalam waktu dekat ini, Pak?

Bapak Helmi Wahyudin:

Sebetulnya, proses untuk set-up program bilingual di sekolah ini sudah kita mulai sejak 6 bulan yang lalu. Jadi, 6 bulan lalu kita memang sedang merancang apa yang kita sebut dengan piloting (proyek percontohan). Kenapa piloting? Karena memang tidak langsung diterapkan di semua kelas. Sekolah ini bukan sekolah yang baru mulai dari nol, melainkan sekolah yang sudah existing (sudah berjalan).

Ketika sekolah yang sudah berjalan ini ingin kita transformasikan menjadi sekolah bilingual, kita perlu proses tahapan demi tahapan. Maka, tahapan itu kita mulai dengan piloting yang dimulai dari kelas 1 SD.

Kru SinarLIMA:

Melihat rentang waktu yang ada, bagaimana tingkat optimisme Bapak bahwa program ini insyaallah akan sukses?

Bapak Helmi Wahyudin:

Insyaallah kami optimis. Kalau berkaitan dengan program bilingual, sekarang kita bisa melihat bahwa banyak sekolah yang berbasis agama Islam sudah mulai bergerak ke arah luar biasa ini. Sehingga program ini memang sudah menjadi tuntutan zaman.

Orang tua murid zaman sekarang—yang mungkin sekarang sudah masuk generasi Gen-Z—mereka sudah sangat paham. Yang dicari bukan cuma sekedar anak bisa baca Al-Qur'an dan akhlaknya baik, tetapi juga apa kompetensi global yang bisa dibekali oleh sekolah untuk masa depan anak-anak mereka. Saya pikir, salah satu jawabannya adalah dengan menawarkan program bilingual ini. Di satu sisi, kita tidak mencabut apa yang sudah menjadi program keunggulan kita, seperti nilai keagamaan dan karakter, tetapi kita menambahkan satu program yang mudah-mudahan menjadi nilai tambah (value-added) di sekolah kita.

Kru SinarLIMA:

Dari sisi nilai jual ke depan, apa yang menjadi keunggulan utama dari program bilingual kita ini agar bisa bersaing?

Bapak Helmi Wahyudin:

Sebetulnya sudah ada beberapa sekolah yang menjalankan program serupa. Namun, kita ingin menjalankan program ini tidak seperti sekolah-sekolah pada umumnya yang mungkin langsung bekerja sama dengan kurikulum internasional demi label tertentu. Menurut saya, untuk tingkat sekolah dasar, kita tidak perlu terlalu jauh terlibat langsung menggunakan kurikulum internasional secara kaku.

Yang paling perlu dibekali melalui program bilingual ini adalah bagaimana anak-anak dibiasakan dan dilatih kemampuan dasarnya, yaitu listening (mendengar) dan speaking (berbicara). Kemampuan berbahasa yang paling dasar itu kan ada pada aspek tersebut. Nah, itu yang nanti akan kita biasakan dan kita budayakan. Jadi, mata pelajaran bahasa Inggris bukan cuma sekedar subjek hafalan, melainkan digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari oleh gurunya.

Kru SinarLIMA:

Tentu Bapak tidak berpikir sendiri dalam menyukseskan gerakan ini. Apakah Bapak memiliki rekan tim yang bisa menyukseskan kegiatan bilingual ini secara umum?

Bapak Helmi Wahyudin:

Secara umum, program ini berangkat dari pengalaman saya mendampingi beberapa sekolah sebelumnya. Kunci utama dari branding sekolah bilingual itu salah satunya terletak pada kompetensi gurunya. Maka, konsen pertama kita adalah merekrut guru yang memiliki kompetensi bahasa Inggris yang mumpuni.

Alhamdulillah, proses seleksi sudah kita lakukan dan saat ini sudah ada guru baru yang bergabung dengan kita. Guru ini memiliki latar belakang yang sangat baik; sebelum bergabung di sini, beliau mengajar di salah satu sekolah internasional (international school).

Kru SinarLIMA:

Di awal mula berjalan, tentu kita berharap semua terlaksana dengan baik. Namun bagaimana dengan pengawasan atau supervisi hariannya agar target kurikulum ini tercapai?

Bapak Helmi Wahyudin:

Betul sekali. Salah satu prinsip penting dalam pengelolaan pembelajaran yang bermutu adalah bagaimana kita bisa melakukan supervisi secara konsisten. Supervisi pembelajaran tentu akan kita lakukan secara berkala. Hal ini sangat penting untuk memastikan pembelajaran yang kita harapkan berjalan dengan baik di kelas. Selain itu, melalui supervisi, kita bisa melihat langsung apa yang menjadi kendala atau kekurangan di lapangan, sehingga kita memiliki basis data yang valid untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Kru SinarLIMA:

Andaikata di tengah jalan terjadi kendala atau hambatan yang tidak terduga, bagaimana langkah Bapak untuk mengatasinya?

Bapak Helmi Wahyudin:

Menurut saya, penanganannya tergantung pada jenis kendalanya. Kendala dalam program baru itu wajar dan faktornya banyak. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan assessment atau diagnosis terhadap faktor utama yang menyebabkan kendala itu muncul. Setelah tahu akar masalahnya, barulah kita susun tahapan-tahapan solusinya.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini di dunia pendidikan, semuanya itu adalah proses. Tidak mungkin kita menjalankan satu proses pendidikan tanpa hambatan sama sekali. Pasti ketemu kendala. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa melakukan analisis masalah secara jernih, lalu melakukan penyelesaian secara step-by-step. Kita harus siap secara mental untuk menghadapi kendala apa pun yang muncul di depan.

Kru SinarLIMA:

Nanti untuk melihat sejauh mana penguasaan bahasa anak-anak, bagaimana cara menunjukkannya? Apakah melalui dokumentasi video, mengundang orang tua secara langsung, atau bagaimana, Pak?

Bapak Helmi Wahyudin:

Seperti yang kami terapkan selama ini, program bilingual yang mau kita munculkan adalah keaktifan siswa dalam aspek skills-nya untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Karena kita mulai di kelas 1 SD, tentu ini masih tahap yang sangat dasar. Walaupun dasar, setiap anak pasti akan menunjukkan progresnya masing-masing. Progres anak kelas 1 SD tentu tidak bisa disamakan atau sehebat anak SMA, dan itu sangat wajar.

Paling tidak, dalam prosesnya, anak-anak akan kita stimulasi agar mereka berani mempraktikkan bahasa Inggris sebagai komunikasi harian di sekolah. Kita ingin orang tua bisa merasakan langsung dampaknya. Jadi, bahasa Inggris di sini bukan ditempatkan sebagai subjek materi pelajaran, melainkan digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran dan bahasa komunikasi harian yang dihidupkan oleh guru di sekolah untuk hampir semua mata pelajaran—kecuali mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia, PKN, dan PAI.

Harapan dari proses yang konsisten ini adalah anak-anak terlatih kemampuan listening-nya. Sama seperti kita mengajarkan anak kecil berbicara bahasa Indonesia di rumah; kita harus sering mengajak mereka berbicara agar perbendaharaan katanya kaya, sehingga lama-lama mereka bisa bicara dengan sendirinya. Proses alami itulah yang kita terapkan di sekolah.

Kru SinarLIMA:

Berarti penekanannya dimulai dari gurunya dulu ya, Pak? Anak-anak menyesuaikan secara bertahap?

Bapak Helmi Wahyudin:

Betul, penekanan utama ada pada gurunya terlebih dahulu, terutama yang bertindak sebagai wali kelas atau home teacher. Bagaimana guru tersebut bisa konsisten menggunakan bahasa Inggris kepada anak-anak, baik saat mengajar maupun saat berkomunikasi harian. Sementara untuk anak-anak, kita melihatnya sebagai sebuah proses. Jika di awal mereka merespons atau bertanya masih menggunakan bahasa Indonesia, itu adalah hal yang sangat wajar dalam proses belajar.

Kru SinarLIMA:

Kembali ke agenda Raker (Rapat Kerja) hari ini, Pak. Tadi di dalam forum Bapak menyampaikan harapan agar program ini terlaksana. Bagaimana Bapak melihat antusiasme dan interaksi para peserta Raker dalam merespons hal ini?

Bapak Helmi Wahyudin:

Interaksi di dalam aktivitas Raker ini cukup bagus ya. Teman-teman bisa lihat sendiri hampir semua peserta terlibat aktif dalam diskusi-diskusi kelompok. Sebetulnya, kalau kita bicara soal diskusi, tidak semua orang siap untuk diajak berpikir keras. Tetapi saya lihat di Raker ini prosesnya luar biasa, teman-teman terlibat aktif.

Secara tidak langsung, dinamika ini membangun kesadaran bersama terkait masalah apa yang sedang kita hadapi di sekolah dan solusi apa yang bisa kita usulkan. Melihat dinamika selama dua hari Raker ini, insyaallah kita semua sama-sama optimis untuk mewujudkan cita-cita memperbaiki proses dan jaminan mutu di sekolah ini. Mudah-mudahan hal ini juga akan meningkatkan kembali minat serta kepercayaan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah kita.

Kru SinarLIMA:

Di samping kelebihan tadi, tentu dari sisi kekurangan pasti ada. Apakah ada masukan-masukan agar ke depan tata kelola kita bisa lebih agresif dan komunikatif, Pak?

Bapak Helmi Wahyudin:

Di dalam forum Raker, salah satu poin penting yang harus dibahas adalah refleksi. Refleksi itu adalah proses kita mengevaluasi apa yang sudah kita kerjakan dan sejauh mana capaiannya. Jujur saya melihat di Raker kali ini proses evaluasi yang berbasis data konkret atau KPI (Key Performance Indicators) yang terukur itu memang belum sepenuhnya tajam, meskipun ruang diskusi, saran, dan masukan sudah berjalan baik.

Ke depan, kita perlu membiasakan diri mengukur capaian dengan ukuran-ukuran yang jelas agar hasil evaluasi kita menjadi lebih reliable (andal) dan valid. Namun secara keseluruhan, saya sangat mengapresiasi semangat Raker tahun ini. Semoga hasilnya tidak berhenti di atas kertas raker saja, melainkan dibuktikan dalam wujud kesadaran aksi nyata kita sehari-hari. Amin.

Kru SinarLIMA:

Menarik sekali. Selaku konsultan pendidikan, peran Bapak tentu tidak hanya menangani program bilingual saja, melainkan meramu seluruh aspek pendidikan yang ada di yayasan ini agar bisa maju bersama berdasarkan pengalaman Bapak. Benar begitu, Pak?

Bapak Helmi Wahyudin:

Ya, betul. Pertama-tama saya ingin sampaikan bahwa saya ini bukan superhero yang bisa menyelesaikan semua masalah sendirian. Tetapi paling tidak, Raker ini menjadi momentum yang tepat bagi saya untuk menyampaikan pandangan sekaligus membangun kesadaran bersama tentang kondisi sekolah kita. Tahu dan sadar akan masalah yang dihadapi itu adalah modal besar. Masalah terbesar justru terjadi ketika kita tidak tahu bahwa ada masalah di dalam rumah kita.

Memperbaiki sekolah secara entitas yang melibatkan banyak stakeholders ini tentu bukan proses yang sederhana. Jadi, bismillah, kita mulai dari skala prioritas yang bisa kita jangkau terlebih dahulu karena waktu saya juga terbatas. Dan yang paling jelas, komunikasi antara pihak yayasan dengan pihak sekolah harus terus dibangun secara intens agar semangat silaturahminya tidak terputus.

Kru SinarLIMA:

Luar biasa. Tetap semangat untuk mengabdi di yayasan kita tercinta ini, Pak. Ada pesan moral penutup sebagai motivasi bagi kita semua?

Bapak Helmi Wahyudin:

Kalau saya pribadi melihatnya, tugas kita di dunia pendidikan ini adalah bagian dari panggilan dakwah. Kita bekerja sebagai guru atau pengelola sekolah sebetulnya bukan cuma sekedar bekerja untuk mengharapkan penghasilan atau gaji bulanan saja, melainkan harus dilandasi oleh niat yang lebih mulia. Dalam agama kita diajarkan Innamal a'malu binniyat—sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Kalau niatnya cuma kerja cari gaji, ya sebatas itu yang didapat.

Tetapi kalau kita niatkan ini sebagai ibadah, sebagai bagian dari dakwah pendidikan untuk menyiapkan generasi muslim dan generasi masa depan Indonesia yang lebih baik, insyaallah ini akan menjadi ladang amal jariyah yang luar biasa bagi kita semua.

Kru SinarLIMA:

Amin ya Rabbal Alamin. Semoga ucapan dan ikhtiar ini menjadi doa yang tembus ke langit, membawa kesejahteraan lahir batin bagi kita semua, dan sekolah kita senantiasa diridai Allah SWT.

Oh ya Pak, satu hal lagi, Bapak kan sudah mulai mengenal jajaran Yayasan Pendidikan Acprilesma ini. Bagaimana Bapak melihat sosok Ketua Yayasan kita yang notabene masih representatif muda ini dalam berdiskusi?

Bapak Helmi Wahyudin:

Justru menurut saya, memiliki sosok Ketua Yayasan yang masih muda itu adalah modal yang sangat besar bagi kemajuan lembaga ini. Beliau adalah sosok yang sangat open-minded (berpikiran terbuka) dan berani untuk mencoba hal-hal baru yang inovatif. Langkah-langkah strategis seperti ini tidak sembarangan bisa diambil jika pemimpinnya kaku.

Apalagi beliau memiliki latar belakang profesional sebagai seorang dokter di bidang kesehatan. Hal itu tentu memperkaya wawasan dan nilai-nilai baru di sekolah kita. Contohnya seperti tadi, kita diberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga kesehatan. Menjaga kesehatan dengan baik itu adalah bagian dari amal saleh, karena dengan tubuh yang sehat, kita bisa bekerja dan mengabdi secara optimal di dunia pendidikan ini.

Kru SinarLIMA:

Masyaallah, luar biasa sekali. Dengan semangat husnuzan, saling mendukung, dan saling mengoreksi demi kebaikan, semoga ke depan Bapak bisa semakin leluasa memberikan kontribusi total di sini sehingga menjadi pahala yang sempurna untuk kita semua. Terima kasih banyak atas waktunya, Bapak Helmi.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Bapak Helmi Wahyudin:

Amin, amin ya Rabbal Alamin. Sama-sama, terima kasih kembali. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

(Kru Media SinarLIMA melaporkan langsung dari Aula Graha Acprilesma, Jakarta)

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"

Khutbah Jumat: Waktu adalah Amanah, Jangan Disia-siakan