Semarak Hizib Bulanan NWDI DKI Jakarta: Peresmian Majelis Ahmad Lutfiah Hingga Refleksi Filosofi ‘Cermin Hati’ Al-Ghazali
Semarak Hizib Bulanan NWDI DKI Jakarta: Peresmian Majelis Ahmad Lutfiah Hingga Refleksi Filosofi ‘Cermin Hati’ Al-Ghazali
JAKARTA — Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta kembali menggelar kegiatan Hiziban bulanan yang berlangsung khusyuk dan penuh keberkahan. Bertempat di kediaman Drs. H. Ahmad Yani, kawasan Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, acara yang digelar pada Sabtu malam, 6 Juni 2026 (bertepatan dengan 20 Dzulhijjah 1447 H) ini menjadi momentum penting bagi penguatan dakwah spiritual dan kemandirian umat.
Hadir dalam acara tersebut jajaran pengurus teras PW NWDI DKI Jakarta, di antaranya Ketua Umum PW NWDI DKI Jakarta, Sekretaris Umum, Sekjen Majelis Hizib DKI Jakarta Harry Cahyono, Ketua LSI, serta puluhan jamaah dari berbagai wilayah Jabodetabek, mulai dari Jakarta, Bekasi, hingga Depok. Semarak acara semakin terasa dengan kehadiran para santri dari Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta (Cakung) dan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Al-Akbar, Gandul, Cinere, Depok yang dipimpin oleh Ustaz Rusdi Sofyan, M.Pd.
Peresmian Majelis Hizib 'Ahmad Lutfiah' Halim Perdana Kusuma
Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah peresmian nama majelis sebagai cabang dakwah baru di wilayah Jakarta Timur. Atas hasil diskusi dan restu dari para tokoh, majelis ini resmi dinamakan Majelis Hizib Ahmad Lutfiah. Nama tersebut diambil dari perpaduan nama pemilik tempat sekaligus tuan rumah, Bapak Ahmad Yani, dan ibunda/istri tercinta, Ibu Hajah Lutfiah.
"Malam ini, tanggal 20 Dzulhijjah 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 6 Juni 2026, kita bersama meresmikan Majelis Hizib Ahmad Lutfiah Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Alhamdulillah, semoga ini menjadi keran syiar baru bagi perjuangan dakwah kita," ujar Ketua PW NWDI DKI Jakarta dalam sambutannya.
Langkah ini diharapkan memicu munculnya cabang-cabang Majelis Hizib baru di berbagai titik strategis lainnya untuk memperluas jangkauan dakwah.
Kedalaman Spiritual: Mengembalikan 'Fitrah' Melalui 3 Langkah Cermin Hati
Di tengah kekhusyukan dzikir dan doa Hizib Nahdlatul Wathan, Ketua PW NWDI DKI Jakarta mengupas tuntas esensi spiritual dari pembacaan wirid yang mendalam. Beliau mengaitkannya dengan Teori Mirah (Analogi Cermin) yang digagas oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Sebagaimana dipertegas oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad:
(Hati itu seperti cermin, apabila berkarat maka tidak bisa memantulkan kebenaran).
Manusia terlahir dalam keadaan Fitrah (suci dan bersih). Namun, seiring waktu, cermin fitrah itu bisa tertutup karat akibat dosa, stres, dan urusan dunia. Untuk mengembalikan kesucian fitrah tersebut, pembacaan Hizib ini mengantarkan jamaah melalui 3 tahapan sederhana yang mudah dipahami:
-
1. Takhalli (Pembersihan)
-
Ibaratnya: Kita punya cermin tua yang kotor dan berkarat, lalu kita gosok sampai karatnya hilang.
-
Praktiknya: Melalui dzikir, istighfar, dan membaca Hizib, kita membuang penyakit hati seperti sombong, iri, cemas, dan pusing memikirkan dunia. Kita bersihkan dulu hatinya.
-
-
2. Tahalli (Penghiasan)
-
Ibaratnya: Setelah cerminnya bersih dan mengkilap, kita hiasi bingkainya agar tampak indah.
-
Praktiknya: Hati yang sudah bersih tadi kita isi dan hiasi dengan sifat-sifat terpuji, seperti sabar, syukur, ikhlas, dan rida atas ketentuan Allah.
-
-
3. Tajalli (Penampakan Cahaya)
-
Ibaratnya: Cermin yang sudah bersih dan berkilau diletakkan di tempat yang benar, sehingga langsung menangkap dan memantulkan cahaya lampu dengan terang benderang.
-
Praktiknya: Inilah puncaknya. Ketika hati sudah bersih (Takhalli) dan dihiasi kebaikan (Tahalli), maka rasa kehadiran Allah (Tajalli) akan terasa sangat dekat. Seseorang akan merasakan ketenangan yang luar biasa, hidupnya terasa lapang, urusannya dimudahkan, dan selalu merasa bahagia karena hatinya selalu memantulkan cahaya kebenaran dari Allah SWT.
-
Gerakan 'Melontar' dan Kemandirian Ekonomi Majelis
Sekjen Majelis Hizib DKI Jakarta, Harry Cahyono, memberikan postur dan masukan strategis terkait pengaktifan kembali istilah "Melontar" atau "Lempar Jumrah". Istilah ini merupakan gerakan sukarela dari anggota majelis untuk mengumpulkan dana kas secara istiqomah (saweran).
Dana yang terkumpul nantinya akan dialokasikan untuk kepentingan bersama, seperti subsidi logistik lokasi kegiatan dakwah, bantuan sosial, hingga rencana pengembangan ekonomi jamaah melalui wadah koperasi atau BMT di bawah naungan PW NWDI DKI Jakarta.
Agenda Dakwah Mendatang: Matraman dan Halim Perdana Kusuma
Menutup rangkaian acara, TGH. Abdul Karim menyampaikan agenda terdekat. Majelis Hizib bulanan selanjutnya dijadwalkan bertempat di Masjid Baiturrahim, Koramil 02 Matraman, Jakarta Timur, pada Kamis malam Jumat, 11 Juni 2026.
Selain itu, majelis telah menetapkan jadwal rutin untuk bulan berikutnya. Pada hari Sabtu malam Minggu, 4 Juli 2026, kegiatan Hizib akan kembali dilaksanakan di Majelis Hizib Ahmad Lutfiah, kediaman Drs. H. Ahmad Yani, Halim Perdana Kusuma. Ke depan, majelis juga berkomitmen untuk melibatkan jamaah Muslimat guna memperkuat ukhuwah dan memperluas keberkahan dakwah di tengah masyarakat.
Comments
Post a Comment