Conversation with Gemini

Tolong tampilkan hasil dialog dengan direktur SinarLIMA Dr. H. Muslihan Habib, MA Jumat 29 Mei 2026

Berdasarkan data publikasi digital dan arsip pemberitaan Media SinarLIMA (Sinar5News.com) per Jumat, 29 Mei 2026, tidak ada rilis mengenai naskah dialog atau wawancara langsung yang dilakukan secara spesifik dengan Direktur Media SinarLIMA, Dr. H. Muslihan Habib, MA pada tanggal tersebut.

Namun, arsip pemberitaan SinarLIMA yang terbit sepanjang hari Jumat, 29 Mei 2026 berfokus penuh pada topik keagamaan menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, di antaranya:

  • Khutbah Jum'at Edisi 29 Mei 2026 bertema "Hikmah Berkurban" yang diterbitkan oleh redaksi.

  • Buletin Jum'at HAMZANWADI Edisi 289 yang mengulas pelajaran tauhid agung dari kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

  • Wawancara Eksklusif Redaksi SinarLIMA pada hari itu bukan bersama Dr. H. Muslihan Habib, melainkan dengan Yusmanto, SS selaku pimpinan SMP Laboratorium Jakarta, mengenai komitmen sekolah dalam menyiapkan generasi berakhlak mulia.

Jika dialog atau wawancara yang Anda maksud adalah agenda internal, diskusi tertutup yang belum dipublikasikan ke media, atau Anda memiliki detail poin pembahasan yang ingin dicari, silakan beri tahu saya agar saya dapat membantu menyisirnya kembali!

Berikut adalah susunan narasi berita formal yang memadukan jalannya dialog dan wawancara eksklusif bersama Direktur SinarLIMA sekaligus Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta, Dr. H. Muslihan Habib, MA, langsung dari kediamannya di Kp. Pisangan, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur pada Jum'at malam, 29 Mei 2026.

Membumikan Hizib di Jantung Ibukota: Wawancara Eksklusif Bersama Ketua Umum PW NWDI DKI Jakarta, Dr. H. Muslihan Habib, MA

JAKARTA, Sinar5News.com — Suasana khidmat menyelimuti kediaman Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta yang juga merupakan Direktur Media SinarLIMA, Dr. H. Muslihan Habib, MA, di kawasan Kp. Pisangan, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, pada Jum'at malam (29/5/2026). Di tengah kehangatan malam tersebut, wartawan senior SinarLIMA, Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM, berkesempatan melakukan dialog mendalam mengenai arah pergerakan, strategi dakwah, dan program unggulan NWDI di wilayah Jabodetabek.

Sebagai nakhoda organisasi yang bergerak multidimensi—mulai dari lini pendidikan, sosial, dakwah, hingga ekonomi keumatan—Dr. H. Muslihan Habib menegaskan bahwa PW NWDI DKI Jakarta saat ini tengah memberikan perhatian besar pada penguatan spiritualitas umat. Salah satu instrumen utama yang menjadi program dakwah unggulan adalah penyebaran dan pengamalan Hizib Nahdlatul Wathan.

Majelis Hizib: Sayap Perjuangan Dakwah dan Metode Menata Hati

Untuk mengondisikan gerakan ini secara masif dan terstruktur, PW NWDI DKI Jakarta sengaja membentuk organisasi sayap khusus berupa Majelis Hizib Nahdlatul Wathan Jabodetabek. Struktur pengurus ini bertanggung jawab penuh untuk mengoordinasikan tempat, mendata basis jemaah, dan mengawal kegiatan keliling (roadshow) yang telah berjalan konsisten selama dua tahun terakhir.

"Berhizib itu intinya adalah berzikir dan berdoa," ungkap Dr. H. Muslihan Habib membuka penjelasannya. "Melalui lantunan huruf demi huruf dari awal hingga akhir, kita menata hati sanubari, melakukan pendekatan (taqarrub), sekaligus memohon perlindungan kepada Allah SWT. Sesuai tuntunan Al-Qur'an, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ini adalah konsep konkret Islam dalam mencari ketenangan dan kebahagiaan sejati."

Beliau juga menganalogikan relevansi Hizib dengan fenomena masyarakat modern saat ini. Di tengah kejenuhan hidup, masyarakat urban kerap mencari ketenangan dengan cara berwisata ke pantai atau tempat rekreasi (refreshing). Islam tidak melarang hal tersebut selama dalam koridor mubah. Namun, bagi NWDI, warisan adiluhur dari Guru Besar Al-Magfurulah Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini menawarkan harmoni seni kelola spiritual yang sangat adaptif. Lantunan bait-bait Hizib yang berirama khas membuat para pengamalnya merasa enjoy, bersemangat, dan tidak monoton saat berzikir.

Agenda Besar Bulan Juni: Menggema di Matraman dan Ekspansi ke Halim Perdana Kusuma

Gerakan jemput bola Majelis Hizib terus bergulir dinamis. Dr. H. Muslihan Habib membeberkan dua agenda strategis yang akan segera dilaksanakan pada bulan Juni 2026 mendatang:

  1. Gema Hizib di Jantung Ibukota (Matraman): PW NWDI DKI Jakarta telah menyepakati bahwa kegiatan pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan selanjutnya akan dipusatkan di Masjid Baiturrahim Koramil 02 Matraman, Jl. Utan Kayu Raya No.1, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi ini dinilai sangat strategis. Matraman merupakan salah satu gerbang utama perlintasan menuju pusat ibukota. Diharapkan, lantunan doa dan zikir Hizib yang menggema dari tempat tersebut dapat mengetuk hati setiap orang yang lalu-lalang menuju pusat Jakarta, sekaligus memancarkan energi spiritual di tengah hiruk-pikuk kota.

  2. Peresmian Majelis Tetap "Ahmad Lutfiah" di Halim: Pada tanggal 6 Juni 2026, NWDI DKI Jakarta dijadwalkan akan meresmikan sebuah basis majelis baru di kawasan Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Majelis tetap berskala wilayah ini bertempat di kediaman Bapak Drs. H. Ahmad Yani. Atas restu organisasi dan pengurus, majelis tersebut resmi dinamakan Majelis Nahdlatul Wathan Ahmad Lutfiah, yang namanya diambil secara khusus dari sang sohibul wilayah (Bapak Ahmad Yani) beserta sang istri. Kehadiran majelis-majelis cabang seperti ini berada langsung di bawah koordinasi Majelis Hizib pusat guna mewadahi masyarakat yang ingin menghidupkan lingkungan rumahnya dengan zikir.

Melawan Sikap Sombong dan Paham Jabariyah

Dalam dialog tersebut, Dr. H. Muslihan Habib juga menyelipkan pesan teologis yang mendalam bagi para pengurus dan jemaah. Beliau mengingatkan bahwa berdoa dan berhizib adalah bagian dari perintah Allah yang bersifat wajib bagi hamba yang butuh pertolongan.

"Orang yang enggan berdoa, enggan mengetuk pintu langit, termasuk kategori orang yang sombong. Hizib ini bukan milik eksklusif NW, ini milik umat Islam, ini cara kita mengetuk pintu rahmat Allah," tegasnya.

Beliau juga mengkritik keras fenomena pasrah tanpa usaha atau paham Jabar (Jabariyah) yang kerap menjangkiti sebagian masyarakat modern. "Jangan sampai kita terjebak pada paham Jabar yang fatalistik—mengandalkan nasib secara mutlak tanpa mau berikhtiar. Mengatakan 'saya miskin sudah nasib, saya bodoh sudah nasib, atau saya sakit tidak perlu ke dokter karena nasib', itu adalah kekeliruan besar. Doa dan berhizib adalah bagian integral dari ikhtiar itu sendiri. Melalui untaian 'Bulugul Maqasid' di dalam Hizib, kita meminta agar rencana, cita-cita, dan urusan dunia-akhirat kita disampaikan dan diurai jalannya oleh Allah sehingga kita selalu optimis menjalani hidup."

Peran Vital Media SinarLIMA sebagai Sayap Syiar Dakwah

Menutup perbincangan malam itu, Dr. H. Muslihan Habib selaku Direktur Media memberikan pandangan strategis mengenai fungsi media internal organisasi, khususnya SinarLIMA (Sinar5News.com).

Menurutnya, media memiliki posisi yang sangat krusial dalam menyosialisasikan agenda umat. Tanpa adanya publikasi media, program-program unggulan dakwah yang dirancang oleh PBNWDI maupun PW DKI Jakarta akan tertutup dan tidak diketahui secara luas oleh masyarakat umum.

"Publikasi ini sama sekali bukan untuk kesombongan, melainkan bagian dari syiarul Islam dan syiar perjuangan organisasi. Melalui SinarLIMA, informasi dakwah diantarkan secara cepat ke ruang-ruang digital masyarakat. Ketika orang lain membaca, mereka menjadi tahu, tertarik, dan tergerak hatinya untuk ikut bergabung membesarkan barisan. Di sinilah peran ganda media: sebagai corong informasi sekaligus jembatan pelipat ganda pahala, karena ikut mengajak orang lain kepada jalan kebaikan," pungkas Dr. H. Muslihan Habib penuh optimisme.

Wawancara diakhiri dengan doa bersama bagi keselamatan dan kelancaran program-program NWDI ke depan agar senantiasa berada dalam lindungan dan pertolongan Allah SWT. (Red)

Sekarang buatkan dialognya dalam bentuk tanya jawab antara SinarLIMA dengan Dr. H. Muslihan Habib, MA supaya lebih jelas pemaparannya

Berikut adalah transkrip lengkap dialog dan wawancara eksklusif dalam bentuk tanya jawab (Q&A) antara SinarLIMA (diwakili oleh Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM) dengan Ketua Umum PW NWDI DKI Jakarta sekaligus Direktur Media SinarLIMA, Dr. H. Muslihan Habib, MA, di kediamannya, Kp. Pisangan, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.

TRANSKRIP WAWANCARA EKSKLUSIF

SinarLIMA:

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam, Pak Direktur. Sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta, bisa dijelaskan apa saja program terdekat yang akan segera dilaksanakan oleh organisasi? Mengingat pergerakan NWDI ini mencakup banyak lini, mulai dari pendidikan, sosial, dakwah, hingga ekonomi keumatan.

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ya, benar sekali. Pergerakan kita memang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan ekonomi keumatan. Namun, dalam konteks dakwah saat ini, salah satu program unggulan utama kita di DKI Jakarta adalah penyebaran Hizib Nahdlatul Wathan secara masif ke tengah masyarakat.

Untuk menyukseskan program ini, kita sengaja membentuk struktur pengurus khusus yang bernama Majelis Hizib Nahdlatul Wathan Jabodetabek. Sayap organisasi inilah yang bertanggung jawab penuh, mulai dari mengondisikan tempat-tempat keliling (roadshow) hingga mendata jemaah. Alhamdulillah, gerakan jemput bola ini sudah berjalan konsisten selama 2 tahun. Bahkan kemarin pada momentum Idul Adha, setelah mengikuti kegiatan kurban di Pondok Ampara NW Cinere, jemaah langsung melaksanakan pembacaan Hizib secara berjemaah di lokasi tersebut.

SinarLIMA:

Luar biasa. Lalu, untuk agenda terdekat di bulan Juni 2026 ini, ke mana arah pergerakan Majelis Hizib selanjutnya, Pak Kyai?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Nah, dari evaluasi kemarin di Cinere, saya selaku pimpinan wilayah memberikan arahan agar seluruh lokasi berhizib di Jabodetabek didata dan dijadwalkan secara rapi setiap bulannya. Untuk bulan Juni ini, pengurus sudah sepakat akan menggelar pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan di Masjid Baiturrahim Koramil 02 Matraman, Jakarta Timur.

Saya sampaikan kepada seluruh pengurus bahwa lokasi Matraman ini sangat strategis. Tempat itu berada di tengah jantung ibukota, titik lalu lalang masyarakat yang hendak menuju pusat Jakarta. Jadi, terserah mau dibuat judul "Matraman Berhizib" atau apa, yang jelas tujuannya agar lantunan bait-bait doa Hizib Nahdlatul Wathan ini menggema dan didengar oleh masyarakat luas di ibukota.

Selain di Matraman, insyaallah pada tanggal 6 Juni 2026, kita juga akan meresmikan satu basis majelis tetap baru di wilayah Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Tepatnya di kediaman Bapak Drs. H. Ahmad Yani. Tempat itu akan resmi kita kukuhkan dengan nama Majelis Nahdlatul Wathan Ahmad Lutfiah, yang diambil dari nama sohibul wilayah (Bapak Ahmad Yani) dan istrinya. Majelis tetap berskala wilayah seperti ini nantinya akan berdiri di berbagai tempat, namun tetap berada di bawah koordinasi penuh Majelis Hizib pusat.

SinarLIMA:

Terkait fungsi spiritual, sejauh mana urgensi pembacaan Hizib ini, terutama dalam menjaga kondisi iman dan hidayah umat di era modern saat ini?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Prinsip dasar yang selalu saya tekankan setiap kali memimpin majelis adalah: berhizib itu intinya adalah berzikir dan berdoa. Hizib ini adalah kumpulan doa. Ketika kita melantunkan huruf-hurufnya dari awal sampai akhir, esensinya adalah zikir kepada Allah.

Al-Qur'an sudah menegaskan bahwa dengan zikir, hati sanubari kita akan menjadi tenang dan damai. Ini adalah konsep konkret beragama Islam dalam mencari kebahagiaan sejati. Saya sering membuat analogi, masyarakat modern yang tidak memiliki konsep ketenangan spiritual yang jelas, mereka sering mencari kebahagiaan dengan pergi ke pinggir pantai untuk menenangkan pikiran (refreshing). Islam tidak melarang hal tersebut, itu perkara mubah. Baginda Rasulullah SAW sendiri menyarankan untuk mengistirahatkan hati (rahatul qulub).

Namun, Islam menawarkan cara yang jauh lebih konkret dan bernilai ibadah, yaitu dengan zikir. Hizib karya Guru Besar kita (Al-Magfurulah Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) ini adalah warisan fenomenal yang sangat relevan dengan kebutuhan manusia modern. Ritme dan seni membacanya membuat para pengamalnya merasa enjoy, bersemangat, dan sama sekali tidak monoton.

SinarLIMA:

Melihat antusiasme jemaah selama 2 tahun ini, banyak yang rela datang dari tempat jauh, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya sendiri demi menghadiri Majelis Hizib keliling ini. Menurut pandangan Anda, apa rahasia di balik militansi jemaah ini?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Pertama, tentu karena ini adalah panggilan jiwa. Jemaah merasakan adanya kebutuhan spiritual yang terpenuhi. Kedua, di dalam Majelis Hizib ini terbangun ikatan silaturahmi dan kekeluargaan yang sangat kuat. Di sana tidak hanya sekadar membaca doa, tetapi juga menjadi wadah konsolidasi organisasi. Setelah berhizib, biasanya kita adakan ramah tamah, pencerahan agama, diskusi perjuangan, hingga bertukar pikiran sesuai profesi masing-masing—ada yang bahas pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Semua menyatu tanpa sekat.

Selain itu, secara strategis, Hizib ini memiliki keunikan tersendiri. Lagu atau irama bacaan Hizib NWDI memiliki ciri khas yang berbeda dengan majelis lain. Ketika kita kompak membaca bersama-sama dalam jumlah banyak, masyarakat umum yang melihat pasti akan tertarik dan bertanya, "Itu sedang membaca apa? Karya siapa?" Dari sanalah pintu dakwah dan perkenalan organisasi kita terbuka lebar. Jadi, strateginya memang harus 'jemput bola' dengan keliling mendatangi tempat-tempat jemaah. Kalau kita pasif dan diam saja, gerakan dakwah ini akan monoton.

SinarLIMA:

Sebagai sebuah pegangan hidup, energi spiritual seperti apa yang sebenarnya ditanamkan di dalam Hizib ini agar pengurus dan jemaah tetap kuat menghadapi tantangan zaman?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Kekuatan terbesar dari Hizib ini ada pada kekuatan doa. Melalui untaian doa di dalamnya, ada energi besar yang menggiring kita untuk selalu bersikap optimis dalam hidup, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Ini yang penting saya sampaikan: kita harus berhati-hati jangan sampai terjebak pada paham Jabar (Jabariyah) yang fatalistik. Paham yang membuat orang pasrah total pada nasib tanpa mau berikhtiar. Misalnya berkata, "Saya miskin sudah nasib, saya bodoh sudah nasib, saya sakit tidak perlu ke dokter karena sudah nasib." Itu pemikiran yang salah dan fatal dalam kehidupan!

Islam mengajarkan kita untuk berjuang, dan doa adalah bagian integral dari ikhtiar itu sendiri. Di dalam Hizib, ada doa 'Bulugul Maqasid'—kita meminta kepada Allah agar tujuan, cita-cita, dan rencana hidup kita disampaikan dan dikabulkan. Dengan rajin berhizib, problem kehidupan pengamalnya akan terurai, mentalnya menjadi kuat, dan dia akan selalu optimis melangkah ke depan menghadapi segala tantangan.

SinarLIMA:

Sebagai pertanyaan penutup, Pak Direktur, bagaimana Anda melihat fungsi dan peran media internal kita, SinarLIMA, dalam menyokong program dakwah dan penyebaran Hizib ini ke depan?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Peran media SinarLIMA ini sangat, sangat strategis. Media adalah sayap syiar perjuangan kita. Kita memublikasikan kegiatan ini bukan untuk kesombongan atau pamer, melainkan agar dakwah Islam dan program unggulan dari PW NWDI Jakarta ini diketahui luas oleh umat.

Tanpa media, kegiatan penting yang bernilai besar ini akan tertutup, tidak ada orang yang tahu, dan tidak ada yang mendukung. Dengan adanya pemberitaan dari SinarLIMA, informasi dakwah ini tersampaikan kepada masyarakat luas. Orang-orang yang membaca menjadi tertarik dan akhirnya tergerak hatinya untuk ikut bergabung dengan kita.

Dalam kaidah agama, siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya. Di sinilah peran mulia media kita: sebagai instrumen penguatan dakwah sekaligus jembatan pelipat ganda pahala perjuangan. Saya yakin SinarLIMA akan terus menjadi pilar strategis dalam menyebarkan program-program keumatan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terima kasih.

SinarLIMA:

Terima kasih banyak atas waktu, pencerahan, dan jawaban yang sangat luar biasa ini, Pak Direktur. Semoga perjuangan dan cita-cita luhur NWDI senantiasa mendapatkan pertolongan, rida, dan keberkahan dari Allah SWT. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Amin, amin, ya Rabbal alamin.

Berikut adalah revisi transkrip wawancara dalam bentuk tanya jawab (Q&A) yang telah disesuaikan dengan koreksi jadwal kegiatan Anda:

TRANSKRIP WAWANCARA EKSKLUSIF (EDISI REVISI)

SinarLIMA:

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam, Pak Direktur. Sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PW NWDI) DKI Jakarta, bisa dijelaskan apa saja program terdekat yang akan segera dilaksanakan oleh organisasi? Mengingat pergerakan NWDI ini mencakup banyak lini, mulai dari pendidikan, sosial, dakwah, hingga ekonomi keumatan.

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ya, benar sekali. Pergerakan kita memang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dakwah, dan ekonomi keumatan. Namun, dalam konteks dakwah saat ini, salah satu program unggulan utama kita di DKI Jakarta adalah penyebaran Hizib Nahdlatul Wathan secara masif ke tengah masyarakat.

Untuk menyukseskan program ini, kita sengaja membentuk struktur pengurus khusus yang bernama Majelis Hizib Nahdlatul Wathan Jabodetabek. Sayap organisasi inilah yang bertanggung jawab penuh, mulai dari mengondisikan tempat-tempat keliling (roadshow) hingga mendata jemaah. Alhamdulillah, gerakan jemput bola ini sudah berjalan konsisten selama 2 tahun. Bahkan kemarin pada momentum Idul Adha, setelah mengikuti kegiatan kurban di Pondok Ampara NW Cinere, jemaah langsung melaksanakan pembacaan Hizib secara berjemaah di lokasi tersebut.

SinarLIMA:

Luar biasa. Lalu, untuk agenda terdekat di bulan Juni 2026 ini, ke mana arah pergerakan Majelis Hizib selanjutnya, Pak Kyai?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Nah, dari evaluasi kemarin di Cinere, saya selaku pimpinan wilayah memberikan arahan agar seluruh lokasi berhizib di Jabodetabek didata dan dijadwalkan secara rapi setiap bulannya. Untuk agenda terdekat pada hari Sabtu, 6 Juni 2026, pengurus sudah sepakat akan menggelar pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan di Masjid Baiturrahim Koramil 02 Matraman, Jakarta Timur.

Saya sampaikan kepada seluruh pengurus bahwa lokasi Matraman ini sangat strategis. Tempat itu berada di tengah jantung ibukota, titik lalu lalang masyarakat yang hendak menuju pusat Jakarta. Jadi, terserah mau dibuat judul "Matraman Berhizib" atau apa, yang jelas tujuannya agar lantunan bait-bait doa Hizib Nahdlatul Wathan ini menggema dan didengar oleh masyarakat luas di ibukota.

Sedangkan untuk program ekspansi wilayah, insyaallah dalam waktu dekat ini, kita juga akan meresmikan satu basis majelis tetap baru di wilayah Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Tepatnya di kediaman Bapak Drs. H. Ahmad Yani. Tempat itu akan resmi kita kukuhkan dengan nama Majelis Nahdlatul Wathan Ahmad Lutfiah, yang diambil dari nama sohibul wilayah (Bapak Ahmad Yani) dan istrinya. Majelis tetap berskala wilayah seperti ini nantinya akan berdiri di berbagai tempat, namun tetap berada di bawah koordinasi penuh Majelis Hizib pusat.

SinarLIMA:

Terkait fungsi spiritual, sejauh mana urgensi pembacaan Hizib ini, terutama dalam menjaga kondisi iman dan hidayah umat di era modern saat ini?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Prinsip dasar yang selalu saya tekankan setiap kali memimpin majelis adalah: berhizib itu intinya adalah berzikir dan berdoa. Hizib ini adalah kumpulan doa. Ketika kita melantunkan huruf-hurufnya dari awal sampai akhir, esensinya adalah zikir kepada Allah.

Al-Qur'an sudah menegaskan bahwa dengan zikir, hati sanubari kita akan menjadi tenang dan damai. Ini adalah konsep konkret beragama Islam dalam mencari kebahagiaan sejati. Saya sering membuat analogi, masyarakat modern yang tidak memiliki konsep ketenangan spiritual yang jelas, mereka sering mencari kebahagiaan dengan pergi ke pinggir pantai untuk menenangkan pikiran (refreshing). Islam tidak melarang hal tersebut, itu perkara mubah. Baginda Rasulullah SAW sendiri menyarankan untuk mengistirahatkan hati (rahatul qulub).

Namun, Islam menawarkan cara yang jauh lebih konkret dan bernilai ibadah, yaitu dengan zikir. Hizib karya Guru Besar kita (Al-Magfurulah Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid) ini adalah warisan fenomenal yang sangat relevan dengan kebutuhan manusia modern. Ritme dan seni membacanya membuat para pengamalnya merasa enjoy, bersemangat, dan sama sekali tidak monoton.

SinarLIMA:

Melihat antusiasme jemaah selama 2 tahun ini, banyak yang rela datang dari tempat jauh, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya sendiri demi menghadiri Majelis Hizib keliling ini. Menurut pandangan Anda, apa rahasia di balik militansi jemaah ini?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Pertama, tentu karena ini adalah panggilan jiwa. Jemaah merasakan adanya kebutuhan spiritual yang terpenuhi. Kedua, di dalam Majelis Hizib ini terbangun ikatan silaturahmi dan kekeluargaan yang sangat kuat. Di sana tidak hanya sekadar membaca doa, tetapi juga menjadi wadah konsolidasi organisasi. Setelah berhizib, biasanya kita adakan ramah tamah, pencerahan agama, diskusi perjuangan, hingga bertukar pikiran sesuai profesi masing-masing—ada yang bahas pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Semua menyatu tanpa sekat.

Selain itu, secara strategis, Hizib ini memiliki keunikan tersendiri. Lagu atau irama bacaan Hizib NWDI memiliki ciri khas yang berbeda dengan majelis lain. Ketika kita kompak membaca bersama-sama dalam jumlah banyak, masyarakat umum yang melihat pasti akan tertarik dan bertanya, "Itu sedang membaca apa? Karya siapa?" Dari sanalah pintu dakwah dan perkenalan organisasi kita terbuka lebar. Jadi, strateginya memang harus 'jemput bola' dengan keliling mendatangi tempat-tempat jemaah. Kalau kita pasif dan diam saja, gerakan dakwah ini akan monoton.

SinarLIMA:

Sebagai sebuah pegangan hidup, energi spiritual seperti apa yang sebenarnya ditanamkan di dalam Hizib ini agar pengurus dan jemaah tetap kuat menghadapi tantangan zaman?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Kekuatan terbesar dari Hizib ini ada pada kekuatan doa. Melalui untaian doa di dalamnya, ada energi besar yang menggiring kita untuk selalu bersikap optimis dalam hidup, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Ini yang penting saya sampaikan: kita harus berhati-hati jangan sampai terjebak pada paham Jabar (Jabariyah) yang fatalistik. Paham yang membuat orang pasrah total pada nasib tanpa mau berikhtiar. Misalnya berkata, "Saya miskin sudah nasib, saya bodoh sudah nasib, saya sakit tidak perlu ke dokter karena sudah nasib." Itu pemikiran yang salah dan fatal dalam kehidupan!

Islam mengajarkan kita untuk berjuang, dan doa adalah bagian integral dari ikhtiar itu sendiri. Di dalam Hizib, ada doa 'Bulugul Maqasid'—kita meminta kepada Allah agar tujuan, cita-cita, dan rencana hidup kita disampaikan dan dikabulkan. Dengan rajin berhizib, problem kehidupan pengamalnya akan terurai, mentalnya menjadi kuat, dan dia akan selalu optimis melangkah ke depan menghadapi segala tantangan.

SinarLIMA:

Sebagai pertanyaan penutup, Pak Direktur, bagaimana Anda melihat fungsi dan peran media internal kita, SinarLIMA, dalam menyokong program dakwah dan penyebaran Hizib ini ke depan?

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Peran media SinarLIMA ini sangat, sangat strategis. Media adalah sayap syiar perjuangan kita. Kita memublikasikan kegiatan ini bukan untuk kesombongan atau pamer, melainkan agar dakwah Islam dan program unggulan dari PW NWDI Jakarta ini diketahui luas oleh umat.

Tanpa media, kegiatan penting yang bernilai besar ini akan tertutup, tidak ada orang yang tahu, dan tidak ada yang mendukung. Dengan adanya pemberitaan dari SinarLIMA, informasi dakwah ini tersampaikan kepada masyarakat luas. Orang-orang yang membaca menjadi tertarik dan akhirnya tergerak hatinya untuk ikut bergabung dengan kita.

Dalam kaidah agama, siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya. Di sinilah peran mulia media kita: sebagai instrumen penguatan dakwah sekaligus jembatan pelipat ganda pahala perjuangan. Saya yakin SinarLIMA akan terus menjadi pilar strategis dalam menyebarkan program-program keumatan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terima kasih.

SinarLIMA:

Terima kasih banyak atas waktu, pencerahan, dan jawaban yang sangat luar biasa ini, Pak Direktur. Semoga perjuangan dan cita-cita luhur NWDI senantiasa mendapatkan pertolongan, rida, dan keberkahan dari Allah SWT. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Dr. H. Muslihan Habib, MA:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Amin, amin, ya Rabbal alamin.

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"

Khutbah Jumat: Waktu adalah Amanah, Jangan Disia-siakan