Sekolah Laboratorium Jakarta Meriahkan Hari Kartini ke-62 dengan Semangat 'Habis Gelap Terbitlah Terang'
Sekolah Laboratorium Jakarta Meriahkan Hari Kartini ke-62 dengan Semangat 'Habis Gelap Terbitlah Terang'
JAKARTA, sinar5news.com – Suasana pelataran Sekolah Laboratorium Jakarta tampak berbeda dan penuh warna pada Selasa pagi, 21 April 2026. Ratusan peserta didik mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMK, berbaris rapi dengan paduan busana adat dan seragam sekolah yang pudar oleh semangat perayaan Hari Kartini yang ke-62.
Peringatan yang merujuk pada Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 ini dilaksanakan bertepatan dengan hari lahir R.A. Kartini, 21 April. Acara dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan diikuti dengan penuh antusias oleh segenap Civitas Akademika, termasuk para guru dan karyawan.
Manifestasi Emansipasi: Seluruh Petugas Upacara Adalah Guru Wanita
Ada pemandangan unik dan inspiratif dalam upacara kali ini. Sejalan dengan semangat emansipasi yang didengungkan Kartini, seluruh posisi petugas upacara diisi oleh dewan guru wanita. Mulai dari Pemimpin Upacara, pengibar bendera, pembaca doa, pembaca puisi, hingga dirijen, semuanya dilaksanakan oleh para "Kartini Modern" sekolah tersebut.
Pelaksanaan tugas mereka terbilang nyaris sempurna. Kekhidmatan prosesi ini didukung penuh oleh kedisiplinan para peserta didik yang mengikuti setiap tahapan upacara dengan tertib dan penuh rasa hormat.
Amanat Pembina Upacara: Sentuhan Hati di Era Teknologi
Hadir sebagai Pembina Upacara, dr. Satria Ghaibi Saputra S.Ap, M.Si, selaku Ketua Yayasan Pendidikan Acprilesma. Dalam amanatnya, dr. Satria menekankan makna mendalam di balik penetapan Hari Kartini sebagai hari besar nasional.
Beliau menyampaikan bahwa sejak ditetapkannya hari besar ini, perempuan di seluruh Indonesia diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk berkarya sesuai kodratnya, serta ikut serta membangun agama dan bangsa melalui bidang pengetahuan dan keahlian masing-masing.
Di tengah pesatnya era teknologi saat ini, di mana kecerdasan buatan (AI) dapat menuntaskan pekerjaan dalam hitungan detik, dr. Satria memberikan catatan penting mengenai hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
“Ada beberapa hal yang tidak bisa diwakili oleh teknologi, yaitu rasa kepedulian, rasa empati, rasa tanggung jawab, dan sisi-sisi kemanusiaan lainnya. Manusia memiliki hati, akal budi, perasaan, dan jiwa yang harus diaktualisasikan dalam interaksi sesama,” tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa ini sejalan dengan visi misi Yayasan Pendidikan Acprilesma, yaitu mengajarkan rasa kemanusiaan agar nilai-nilai tersebut tumbuh saling menguatkan.
Mengakhiri sambutannya, Ketua Yayasan mengucapkan selamat Hari Kartini. “Semoga para perempuan, khususnya yang ada di sekolah ini, terus dapat maju bergerak mengisi hari-hari dengan hal-hal yang bermakna, bermanfaat, dan produktif bagi agama, bangsa, dan negara,” tutup dr. Satria.
Penutup yang Meriah: Apresiasi Kostum Terbaik Dewan Guru
Setelah rangkaian upacara memperingati Hari Kartini dinyatakan selesai, suasana formal berubah menjadi ceria dan penuh kekeluargaan. Acara dilanjutkan dengan sesi tambahan yang paling dinantikan, yaitu pengumuman busana terbaik.
Petugas MC membacakan nama-nama dewan guru, baik laki-laki maupun perempuan, yang dinilai tampil paling totalitas dan estetik mengenakan kostum adat yang indah. Perjuangan para guru bersolek sejak subuh terbayar lunas saat mereka dipanggil ke depan.
Sebagai bentuk motivasi dan apresiasi atas semangat menghidupkan budaya, pihak Yayasan Pendidikan Acprilesma memberikan penghargaan kepada para guru berkostum terbaik tersebut. Pemberian apresiasi ini diharapkan dapat semakin menyemangati dewan guru untuk menjadikan R.A. Kartini sebagai figur teladan dalam konsistensi membangun bangsa, sesuai semboyan legendarisnya: "Habis Gelap Terbitlah Terang". (Rls/Red)
Comments
Post a Comment