Lautan Jamaah Iringi Malam Ketujuh Takziah H. Rahman Wilaatmaja: Haru, Doa, dan Keteladanan yang Abadi
Lautan Jamaah Iringi Malam Ketujuh Takziah H. Rahman Wilaatmaja: Haru, Doa, dan Keteladanan yang Abadi
Jakarta Timur, 3 April 2026 — Suasana haru dan penuh kekhidmatan menyelimuti kediaman almarhum H. Rahman Wilaatmaja bin Atmaja di Kampung Pisangan RT 001 RW 003, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu malam (3/4/2026). Malam ini menjadi puncak sekaligus malam ketujuh (terakhir) rangkaian takziah atas wafatnya beliau, yang berpulang pada Jumat, 27 Maret 2026—hari yang mulia.
Ratusan jamaah memadati lokasi sejak selepas Maghrib. Tidak hanya memenuhi bagian dalam rumah, jamaah juga meluber hingga ke pelataran dan jalan di depan kediaman. Para pelayat datang dari berbagai daerah, termasuk Bekasi, sebagai bukti kecintaan dan penghormatan masyarakat kepada almarhum.
Hadir para alim ulama dan asatidz, termasuk dari Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. Tausiyah disampaikan oleh Al-Mukarram Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ., yang memberikan nasihat mendalam tentang hakikat kehidupan dan kematian.
Mengawali tausiyahnya, beliau menyampaikan ungkapan hikmah:
"Kullu ātin qarīb" (كل آتٍ قريب)
Artinya: “Setiap yang akan datang itu dekat.”
Ungkapan ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang pasti datang—termasuk kematian—sesungguhnya sangat dekat dengan manusia. Secara makna, ungkapan ini benar dan selaras dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan hadis, meskipun bukan merupakan teks langsung dari ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi. Salah satu dari firman Allah SWT memperkuat hal ini:
"Iqtaraba linnāsi ḥisābuhum wa hum fī ghaflatin mu‘riḍūn"
(“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.”) — (QS. Al-Anbiya: 1)
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa kematian adalah kepastian yang sangat dekat dan bisa datang secara tiba-tiba. Namun, menurut para ulama, ada sebagian hamba Allah yang diberikan isyarat akan dekatnya ajal, baik satu hari, beberapa hari, bahkan hingga 40 hari sebelumnya. Hal ini disebutkan dalam literatur ulama seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, bahwa tanda-tanda kematian dapat dirasakan oleh sebagian orang beriman. Adapun detik terakhir keluarnya ruh tetap menjadi rahasia Allah SWT.
Dalam tausiyah tersebut, beliau juga mengisahkan wafatnya sahabat Nabi, Abu Salamah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan doa:
"Allahummaghfir li Abi Salamah, warfa‘ darajatahu fil mahdiyyin, wakhlufhu fi ‘aqibihi fil ghabirin, waghfir lana wa lahu ya Rabbal ‘alamin, wafsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fih."
Artinya:
“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah ia bagi keluarganya yang ditinggalkan, ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah di dalamnya.”
Doa ini menjadi tuntunan bagi umat Islam dalam mendoakan orang yang telah wafat agar mendapatkan keselamatan di alam kubur.
Rangkaian acara diisi dengan pembacaan Yasin, tahlil, doa bersama, serta pelaksanaan fidyah sebanyak 300 liter beras sebagai pengganti puasa almarhum yang tertinggal selama satu bulan akibat sakit yang dideritanya. Selain itu, kegiatan ditutup dengan khotmil Qur’an sebagai puncak dari bacaan Al-Qur’an para jamaah selama tujuh malam berturut-turut.
Dalam sambutannya, putra almarhum, Hasbi Romambi, menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kehadiran jamaah yang begitu banyak sejak awal hingga malam ketujuh.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas doa dan kehadiran seluruh jamaah. Mohon dimaafkan segala kesalahan almarhum semasa hidupnya. Apabila ada hutang piutang, sekecil apa pun, kami mohon untuk menghubungi keluarga, insya Allah akan kami selesaikan,” ungkapnya.
Ia juga mengenang sosok ayahnya sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, perhatian kepada keluarga, serta menjadi teladan bagi anak dan cucu.
Almarhum dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, peduli terhadap lingkungan, dan aktif dalam kehidupan sosial. Selama 15 tahun menjabat sebagai Ketua RT 001, beliau menjadi figur yang dicintai masyarakat karena kelembutan hati dan kepeduliannya.
Kesaksian juga datang dari salah satu menantu almarhum yang menyebut bahwa beliau hampir tidak pernah marah, selalu tersenyum, dan sangat perhatian terhadap keluarga.
Malam ketujuh ini menjadi penutup yang penuh makna. Doa-doa dipanjatkan dengan harapan agar almarhum mendapatkan ampunan, dilapangkan kuburnya, dijadikan sebagai taman dari taman-taman surga, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.
Segenap pimpinan, redaksi, dan jurnalis Media Sinar5News.com turut menyampaikan belasungkawa mendalam serta meliput langsung rangkaian kegiatan hingga malam terakhir. (Amr/Red)

Comments
Post a Comment