Syahdunya Tadarus Al-Qur’an di Masjid Hamzanwadi, Menguatkan Iman dan Akhlak Peserta Didik SMP Nahdlatul Wathan Jakarta

Syahdunya Tadarus Al-Qur’an di Masjid Hamzanwadi, Menguatkan Iman dan Akhlak Peserta Didik SMP Nahdlatul Wathan Jakarta

Jakarta, Senin 9 Maret 2026 – Suasana religius dan penuh kekhusyukan terasa di lingkungan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta pada pagi hari ini. Dalam rangka mengisi kegiatan Pesantren Ramadan, seluruh siswa dan siswi melaksanakan rangkaian ibadah yang diawali dengan salat Dhuha berjamaah sebanyak 8 rakaat yang dilaksanakan di Masjid Hamzanwadi Nahdlatul Wathan Jakarta.

Salat Dhuha tersebut dilaksanakan dengan penuh ketertiban dan kekhusyukan, dipandu serta didampingi oleh para dewan guru yang membimbing para peserta didik agar terbiasa menghidupkan ibadah sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Suasana masjid tampak penuh dengan para siswa yang khusyuk menunaikan salat, menjadikan pagi hari terasa begitu tenang dan penuh keberkahan.

Setelah melaksanakan salat Dhuha, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an yang diikuti oleh seluruh peserta didik. Pada hari ini para siswa membaca Juz 1, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 1 sampai 141. Kegiatan tadarus dipimpin oleh dua orang peserta didik yang secara bergantian memandu bacaan Al-Qur’an di hadapan teman-temannya.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan penuh tartil menghadirkan suasana yang sangat syahdu dan menyentuh hati. Seluruh peserta didik tampak menikmati bacaan Al-Qur’an tersebut dengan penuh perhatian dan kekhusyukan. Kegiatan ini tidak hanya menambah kecintaan mereka kepada Al-Qur’an, tetapi juga semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan para siswa.

Program tadarus Al-Qur’an ini merupakan salah satu kegiatan unggulan sekolah selama bulan suci Ramadan yang dilaksanakan secara rutin setiap pagi dan didampingi oleh para guru pembimbing.

Setelah kegiatan tadarus selesai, para siswa kemudian mendapatkan pembekalan ilmu agama melalui tausiyah yang disampaikan oleh tiga guru pembimbing, yaitu:

  • Ust. Amrullah

  • Ust. Fajar Adiansyah

  • Ustadzah Vivibriyanti

Dalam tausiyahnya, para narasumber menekankan pentingnya menjaga dan menegakkan salat lima waktu sebagai kewajiban utama seorang muslim. Mereka mengingatkan bahwa salat merupakan amalan pertama yang akan dihisab oleh Allah SWT pada hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

Artinya:
"Amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik maka baiklah seluruh amalnya, dan jika salatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya."
(HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Selain itu, para guru juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Artinya:
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-Ankabut: 45)

Dalam tausiyah tersebut juga disampaikan bahwa kehidupan seseorang tidak akan bermakna apabila tidak diisi dengan ibadah kepada Allah SWT, khususnya salat. Hal ini diibaratkan dalam sebuah syair yang sangat populer di kalangan umat Islam:

"Walaupun hidup seribu tahun,
bila tak sembahyang apa gunanya."

Syair tersebut mengingatkan bahwa sepanjang apa pun umur manusia, bahkan hingga seribu tahun sekalipun, kehidupan itu akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai apabila tidak diisi dengan ibadah salat.



Selanjutnya Ustadzah Vivibriyanti juga menekankan pentingnya menjaga kualitas ibadah puasa selama bulan Ramadan. Menurut beliau, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari berbagai perbuatan buruk.

Seorang muslim harus mampu menjaga lisan, sikap, dan perbuatannya, sehingga puasanya tidak hanya sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga mampu menahan hawa nafsu dari perbuatan sia-sia.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Oleh karena itu, puasa harus menjadi sarana melatih kesabaran, pengendalian diri, serta memperbaiki akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Pesantren Ramadan di SMP Nahdlatul Wathan Jakarta ini merupakan kegiatan yang sangat positif, bermanfaat, dan memiliki arti yang sangat penting dalam meningkatkan keimanan, memperkuat akhlak, serta menanamkan adab yang mulia kepada para peserta didik.

Akhlak dan adab merupakan tolak ukur kemuliaan manusia, karena ilmu yang tinggi akan menjadi sempurna apabila dihiasi dengan budi pekerti yang baik.

Kepala SMP Nahdlatul Wathan Jakarta juga senantiasa memberikan dukungan dan motivasi kepada seluruh dewan guru agar terus membimbing para siswa dalam berbagai kegiatan ibadah selama bulan suci Ramadan, seperti tadarus Al-Qur’an, salat Dhuha berjamaah, serta pembinaan keagamaan lainnya.

Menurut beliau, kegiatan-kegiatan tersebut merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dalam membentuk generasi muda yang shalih dan shalihah, memiliki akhlak yang mulia, serta menjalani kehidupan yang penuh keberkahan.

Dengan semangat Ramadan, SMP Nahdlatul Wathan Jakarta diharapkan terus menjadi lembaga pendidikan yang mampu mencetak generasi terbaik bangsa, generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki keimanan yang kuat, adab yang luhur, serta karakter yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.

SMP Nahdlatul Wathan Jakarta
Jaya selalu dan tetap menjadi penggerak utama dalam mencetak putra-putri terbaik bangsa.
 ✨

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"