Menjadi Hamba Ar-Rahman atau Pengikut Kesombongan?

 


Menjadi Hamba Ar-Rahman atau Pengikut Kesombongan?

Mengutip uraian pengajian Syaikh Muhammad Zainul Majdi dalam acara silaturahmi dan buka bersama di Ma’had Fityanul Ulum, beliau memulai ceramahnya dengan mengajak hadirin merenungkan kembali karakter ‘Ibadur Rahman sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, Surah Al-Furqan ayat 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَـٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…”

TGB menekankan bahwa ciri pertama ‘Ibadur Rahman adalah cara mereka berjalan di muka bumi dengan haunan—tenang, tawadhu’, tidak angkuh, dan tidak membusungkan dada. Kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan. Ia mencerminkan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba, bukan pemilik mutlak kekuasaan.

Setelah menggambarkan kemuliaan sikap tawadhu’, beliau menghadirkan kontrasnya: sifat sombong. Orang yang sombong, menurut beliau, tampak dari gesturnya—dada dibusungkan seolah penuh kebanggaan, kemarahan, dan kebencian. Langkahnya keras, pandangannya meninggi, matanya melotot, seakan menegaskan superioritas. Ia berjalan bukan sebagai hamba, melainkan seolah-olah sebagai penguasa mutlak bumi.

Namun, Al-Qur’an memberikan gambaran akhir yang sangat berbeda. Dalam Surah Ibrahim ayat 43, Allah melukiskan kondisi orang-orang zalim saat tiba masa pertanggungjawaban:

مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْـِٔدَتُهُمْ هَوَآءٌ
“Mereka datang dengan kepala terangkat, pandangan terbelalak, dan hati yang kosong.”

Kepala yang dahulu tegak karena kesombongan, kini terangkat karena ketakutan. Hati yang dulu penuh keangkuhan berubah menjadi hampa dan tak berdaya.

Dari sini, TGB mengaitkan pesan moralnya: bangsa atau negara yang membusungkan dada di panggung dunia, merasa paling kuat dan berkuasa, sejatinya sedang berjalan di tepi batas yang Allah tetapkan. Sejarah telah membuktikan bahwa kesombongan dan kezaliman tidak pernah abadi; setiap keangkuhan pasti memiliki ujungnya.

Dalam konteks hari ini, ketika dunia menyaksikan dominasi dan kebijakan keras dari negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Israel—terutama dalam konflik yang menimbulkan penderitaan kemanusiaan—pesan ayat ini terasa semakin аktual. Kekuatan militer boleh saja superior, dukungan politik bisa saja luas, namun semuanya tetap berada dalam batas yang Allah tetapkan.

Maka, pilihan bagi seorang mukmin menjadi jelas: menjadi bagian dari ‘Ibadur Rahman yang berjalan dengan tawadhu’, atau terseret dalam arus kesombongan yang pada akhirnya berujung pada kehampaan.

Apakah hari ini kita ingin berdiri bersama ‘Ibadur Rahman—hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih—yang tawadhu’, tenang, tidak membusungkan dada, tidak merasa paling benar, dan tidak berjalan di atas bumi dengan kesombongan?

Ataukah kita justru tergoda menjadi bagian dari Ibadus Syaithan—barisan kesombongan—yang membela keangkuhan, membenarkan kezaliman, atau diam ketika kebatilan dipertontonkan dengan menghancurkan sesama; hingga tanpa sadar menanamkan kebencian, kemarahan, dan kesombongan di dalam dada?

Maka pilihan itu ada pada diri kita:
menjadi hamba Allah yang penyayang, atau menjadi pengikut kesombongan yang berujung kehinaan.

Sejarah akan terus berjalan, kekuasaan akan terus berganti.
Namun hanya satu yang abadi: kehendak Allah dan keadilan-Nya.

Penulis: Sayuti Hamdani


Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"