- Get link
- X
- Other Apps
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Alhamdulillah, sungguh ini adalah nikmat yang sangat istimewa dan sangat berharga bagi kita semua. Pada hari ini kita merayakan hari kemenangan yang agung bagi umat Islam, yaitu Hari Raya Idul Fitri.
Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian.
Hari ini juga merupakan simbol kebebasan bagi kita untuk kembali makan dan minum setelah satu bulan penuh menahan diri dari segala yang membatalkan puasa.
Namun kebebasan itu tetap dalam batas-batas yang ditentukan oleh agama kita.
Hari ini adalah hari kemenangan.
Kemenangan melawan hawa nafsu.
Selama satu bulan penuh kita berjuang menahan berbagai godaan.
Di sekeliling kita ada makanan dan minuman yang sangat kita sukai, tetapi kita mampu menahan diri.
Perut kita terasa lapar, kerongkongan terasa kering karena dahaga, namun kita tetap bersabar.
Semua ujian dan tantangan itu, Alhamdulillah mampu kita lewati.
Karena itu pada hari ini kita merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun perlu kita sadari bahwa keberhasilan kita menjalankan ibadah puasa selama satu bulan bukan semata-mata karena kekuatan dan kehebatan kita.
Tetapi semua itu adalah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena keikhlasan kita dalam berpuasa dan kesabaran kita menahan lapar dan dahaga, maka Allah memberikan pertolongan dan kemudahan kepada kita sehingga kita mampu menyelesaikan puasa Ramadan selama satu bulan penuh.
Kita juga patut bersyukur karena Allah masih memberikan umur kepada kita untuk menyelesaikan Ramadan.
Di tempat lain, ada saudara-saudara kita yang tidak dapat menyempurnakan puasanya karena telah dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah ketentuan ajal yang tidak dapat ditunda dan tidak dapat dipercepat.
Oleh karena itu kemenangan Idul Fitri ini hendaknya kita isi dengan rasa syukur yang mendalam, bukan hanya dengan ucapan lisan, tetapi juga dengan sikap hidup yang mencerminkan keberhasilan kita dalam latihan spiritual selama bulan Ramadan.
Puasa Ramadan adalah latihan spiritual yang luar biasa.
Latihan untuk menjadi manusia yang:
lebih sabar
lebih kuat menahan diri
lebih ikhlas
lebih tabah menghadapi ujian kehidupan
Jika latihan ini berhasil, maka sesungguhnya benih-benih ketakwaan telah tumbuh subur dalam hati kita.
Sebagaimana tujuan puasa yang Allah firmankan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya kemenangan dalam Idul Fitri bukanlah kemenangan karena memakai pakaian baru atau perhiasan dunia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ خَافَ الْوَعِيدَ
Artinya:
"Bukanlah hari raya itu bagi orang yang mengenakan pakaian baru, tetapi hari raya adalah bagi orang yang takut kepada ancaman Allah."
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang kembali dari Ramadan dengan dosa yang diampuni bagaikan bayi yang baru dilahirkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Kemenangan Idul Fitri ini diawali dengan takbir sejak malam 1 Syawal hingga pagi hari ini.
Takbir adalah pengakuan total bahwa Allah Maha Besar, Maha Agung, dan Maha Kuasa.
Dengan kebesaran Allah itulah kita mampu menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Setelah takbir kita melaksanakan salat Idul Fitri sebagai simbol rasa syukur kita kepada Allah.
Betapa bahagianya hati kita.
Betapa damainya jiwa kita.
Betapa sejuknya suasana batin kita.
Kebahagiaan spiritual ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, karena kebahagiaan sejati berada dalam hati.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Setelah salat Idul Fitri kita akan melaksanakan tradisi yang sangat indah dalam budaya kita, yaitu saling memaafkan dalam silaturahmi yang dikenal dengan halal bihalal.
Halal bihalal berarti saling menghalalkan dan saling memaafkan kesalahan.
Jika pada hari ini kita telah dibersihkan dari dosa oleh Allah, maka janganlah kita mengotori kembali hati kita dengan dosa-dosa baru.
Jika kita terlanjur melakukan kesalahan, maka segeralah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.
Karena dosa dapat menghitamkan hati manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Artinya:
"Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan satu dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya."
(HR. Tirmidzi)
Jika ia bertaubat, maka hati itu kembali bersih.
Tetapi jika dosa terus dilakukan, maka hati akan semakin gelap.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita berdoa kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
Semoga Allah menerima amal puasa kita, salat kita, zakat kita, sedekah kita, dan semua amal kebaikan yang telah kita lakukan selama bulan Ramadan.
Semoga kelak di akhirat kita termasuk orang-orang yang masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan, pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ
Artinya:
"Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah Idul Fitri ini juga dianjurkan bagi kita untuk melanjutkan dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan diampuni dosanya.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Jika Anda mau, saya juga bisa membantu membuat Khotbah Kedua Idul Fitri yang sangat menyentuh, singkat tetapi sangat menggetarkan hati jamaah (biasanya sekitar 5–7 menit) agar selaras dengan khotbah pertama ini.
Berikut Khotbah Idul Fitri – Khotbah Pertama yang diulas kembali dengan bahasa yang lebih menyentuh, lebih menggugah hati, dan lebih menggetarkan jiwa jamaah, namun tetap menjaga struktur khotbah yang baik.
KHOTBAH IDUL FITRI
KHOTBAH PERTAMA
Kembali kepada Fitrah, Menjaga Kesucian Jiwa
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
ولله الحمد
الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى. نحمده سبحانه وتعالى على نعمه التي لا تعد ولا تحصى، ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه. ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."
(QS. Ali Imran: 102)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Alhamdulillah…
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada pagi yang penuh berkah ini kita berdiri bersama di tempat yang mulia ini dengan hati yang penuh rasa syukur.
Sungguh ini adalah nikmat yang sangat istimewa dan sangat berharga.
Tidak semua manusia diberikan kesempatan untuk merasakan hari yang agung ini.
Hari ini adalah hari kemenangan bagi umat Islam, hari raya yang agung yaitu Idul Fitri.
Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian jiwa sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.
Hari ini juga menjadi tanda bahwa kita telah menyelesaikan sebuah perjuangan spiritual yang sangat besar, yaitu berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…
Selama satu bulan penuh kita berjuang menahan diri.
Menahan lapar…
Menahan dahaga…
Menahan emosi…
Menahan amarah…
Menahan segala keinginan hawa nafsu.
Padahal di sekeliling kita ada makanan yang kita sukai…
Ada minuman yang menyegarkan…
Ada berbagai kenikmatan dunia yang menggoda kita untuk membatalkan puasa.
Namun kita mampu menahannya.
Ketika perut terasa melilit oleh lapar…
Ketika tenggorokan terasa kering oleh dahaga…
Ketika tubuh terasa lemah oleh keletihan…
Kita tetap bertahan.
Kita tetap berpuasa.
Dan hari ini kita berdiri di sini sebagai orang-orang yang berhasil melewati perjuangan itu.
Namun perlu kita sadari dengan penuh kerendahan hati…
Keberhasilan kita berpuasa selama satu bulan bukan semata-mata karena kekuatan kita.
Bukan karena kehebatan kita.
Tetapi karena pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika Allah tidak menolong kita…
Jika Allah tidak memudahkan kita…
Maka mungkin kita tidak akan mampu menyelesaikan puasa Ramadan dengan sempurna.
Karena itu pada hari ini hati kita dipenuhi oleh satu perasaan yang sangat dalam, yaitu rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lebih dari itu, kita juga patut bersyukur karena Allah masih memberikan umur kepada kita sehingga kita dapat menyempurnakan ibadah Ramadan.
Sebab tidak sedikit saudara-saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita menjalankan puasa, tetapi pada tahun ini mereka telah dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah hakikat kehidupan.
Ajal adalah ketentuan Allah yang tidak dapat ditunda dan tidak dapat dipercepat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Puasa Ramadan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Puasa adalah sebuah madrasah spiritual, sebuah sekolah kehidupan yang mendidik kita selama satu bulan penuh.
Di madrasah Ramadan kita dilatih untuk menjadi manusia yang:
lebih sabar…
lebih kuat…
lebih ikhlas…
lebih mampu menahan hawa nafsu…
Jika pelajaran Ramadan ini benar-benar kita hayati, maka insya Allah karakter kita setelah Ramadan akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Karena itulah Allah menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Jika setelah Ramadan kita menjadi lebih sabar…
lebih lembut hatinya…
lebih rajin ibadahnya…
lebih jujur dalam hidupnya…
Maka itulah tanda bahwa benih-benih ketakwaan telah tumbuh dalam hati kita.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah…
Kemenangan Idul Fitri bukanlah kemenangan karena memakai pakaian baru atau menikmati makanan yang lezat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu kemenangan Idul Fitri adalah kemenangan kembali kepada kesucian hati.
Kemenangan karena dosa-dosa kita diampuni.
Kemenangan karena hati kita kembali bersih.
Namun kesucian itu harus kita jaga.
Jangan sampai setelah Ramadan hati kita kembali kotor oleh dosa-dosa baru.
Karena dosa dapat menghitamkan hati manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Artinya:
"Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya."
(HR. Tirmidzi)
Jika dosa terus dilakukan maka hati akan semakin gelap, dan manusia akan semakin jauh dari cahaya hidayah Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Setelah salat Idul Fitri ini kita akan melanjutkan tradisi indah dalam kehidupan kita yaitu saling memaafkan melalui silaturahmi dan halal bihalal.
Halal bihalal adalah momentum yang sangat mulia.
Momentum untuk saling mengikhlaskan.
Momentum untuk melembutkan hati.
Momentum untuk menyambung kembali hubungan yang mungkin pernah retak.
Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati bukan hanya karena makanan yang lezat atau pakaian yang indah.
Kebahagiaan sejati adalah ketika hati kita bersih dari dosa dan kesalahan.
Akhirnya marilah kita berdoa dengan penuh kerendahan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah menerima puasa kita.
Menerima salat kita.
Menerima zakat dan sedekah kita.
Dan semoga kelak kita semua dipanggil oleh Allah untuk memasuki surga melalui pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ
Artinya:
"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan, yang akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah Idul Fitri ini juga dianjurkan bagi kita untuk melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Semoga Allah menerima amal kita semua.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم
ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Jika Anda berkenan, saya juga bisa membuat Khotbah Kedua Idul Fitri yang sangat kuat, singkat (5 menit) tetapi biasanya membuat jamaah meneteskan air mata, sehingga sangat selaras dengan khotbah pertama ini.
Berikut Khotbah Kedua Idul Fitri yang telah dilengkapi dengan harakat (tanda baca Arab) agar lebih mudah dibaca oleh khatib ketika menyampaikan khutbah.
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ،
اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَأَطِيعُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ،
وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ هُوَ التَّقْوَى.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Setelah kita menjalani bulan Ramadan dengan penuh kesungguhan, marilah kita menjaga amal-amal kebaikan yang telah kita lakukan.
Jangan sampai setelah Ramadan berlalu, semangat ibadah kita juga ikut berlalu.
Karena orang yang benar-benar diterima amalnya oleh Allah adalah orang yang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu."
(QS. Al-Ahzab: 70–71)
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Setelah Idul Fitri ini, marilah kita lanjutkan amal kebaikan kita dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya:
"Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Puasa Syawal ini merupakan salah satu bentuk penyempurna bagi ibadah puasa Ramadan kita, karena mungkin saja dalam puasa Ramadan kita terdapat kekurangan dan kelemahan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada hari yang penuh kebahagiaan ini marilah kita memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadan.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا
وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا
وَتَقَبَّلْ مِنَّا يَا كَرِيمُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ
وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ فِي الْأَعْوَامِ الْقَادِمَةِ
وَنَحْنُ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَفْضَلِ إِيمَانٍ.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jika Anda berkenan, saya juga bisa membantu membuat versi khutbah kedua yang lebih menggetarkan (biasanya membuat jamaah terharu bahkan meneteskan air mata di bagian doa) karena ada susunan doa khusus yang sangat kuat dan sering dipakai para khatib pada khutbah Idul Fitri.
Berikut نصُّ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ لِعِيدِ الْفِطْرِ كاملاً باللغة العربية مع الحركات ليكون سهل القراءة عند إلقاء الخطبة.
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ،
اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ هُوَ التَّقْوَى.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللهُ
إِنَّنَا بَعْدَ أَنْ وَفَّقَنَا اللهُ لِصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ،
يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَحْفَظَ هَذِهِ الطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ،
وَأَلَّا تَكُونَ طَاعَتُنَا لِلَّهِ فِي رَمَضَانَ فَقَطْ.
فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الصَّادِقَ هُوَ الَّذِي يَسْتَمِرُّ فِي الطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ بَعْدَ رَمَضَانَ.
وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
رَوَاهُ مُسْلِمٌ
وَهَذَا مِنْ فَضْلِ اللهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ،
أَنْ جَعَلَ لَهُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ أَعْمَالًا صَالِحَةً تُكَمِّلُ نَقْصَ الْعِبَادَاتِ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللهُ
فِي هَذَا الْيَوْمِ الْمُبَارَكِ، يَوْمِ عِيدِ الْفِطْرِ،
نَرْفَعُ أَيْدِيَنَا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
نَدْعُوهُ وَنَرْجُو رَحْمَتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا
وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا
وَتَقَبَّلْ مِنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ
وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِدْ عَلَيْنَا رَمَضَانَ فِي أَعْوَامٍ قَادِمَةٍ
وَنَحْنُ فِي أَحْسَنِ حَالٍ وَأَفْضَلِ إِيمَانٍ.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jika Anda berkenan, saya juga bisa membantu membuat versi khutbah kedua yang lebih panjang dan sangat menyentuh dalam bahasa Arab lengkap dengan doa yang biasanya dibaca para khatib besar di dunia Islam, sehingga lebih khidmat dan menggetarkan jamaah saat dibacakan pada hari Idul Fitri.
Berikut مُقَدِّمَةُ خُطْبَةِ عِيدِ الْفِطْرِ (الْخُطْبَةُ الأُولَى) dengan bahasa Arab lengkap dengan harakat, yang biasa digunakan para khatib pada khutbah Idul Fitri.
مُقَدِّمَةُ خُطْبَةِ عِيدِ الْفِطْرِ
الْخُطْبَةُ الأُولَى
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا،
وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا،
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَكْمَلَ لَنَا الدِّينَ،
وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ،
وَبَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ،
وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ،
حَتَّى بَلَّغَنَا يَوْمَ الْعِيدِ،
يَوْمَ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَالشُّكْرِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
الَّذِي أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ،
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ،
اُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ
Mukadimah ini bisa langsung dilanjutkan dengan isi khutbah yang sudah Anda susun sebelumnya tentang “العودة إلى الفطرة وحفظ طهارة القلوب” (Kembali kepada fitrah dan menjaga kesucian jiwa).
Jika Anda ingin, saya juga bisa membantu membuat versi mukadimah Idul Fitri yang lebih panjang, lebih fasih, dan sangat indah secara balaghah Arab (biasanya dipakai para khatib di Timur Tengah) sehingga terdengar sangat khidmat dan menggetarkan ketika dibacakan di mimbar.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment