Buka Bersama dan Santunan Yatim di Ma’had Fityanul Ulum Cinere, Dihadiri TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA
- Get link
- X
- Other Apps
Buka Bersama dan Santunan Yatim di Ma’had Fityanul Ulum Cinere, Dihadiri TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA
Depok — Hangatnya suasana Ramadan terasa begitu kental dalam kegiatan buka puasa bersama dan santunan anak yatim yang digelar secara spontan pada Ahad, 1 Maret 2026 di Ma'had Fityanul Ulum NWDI Cinere. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang berbagi, tetapi juga momentum memperkuat ukhuwah dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang mendalam.
Dipimpin oleh TGM Hasan Asy'ari, acara dimulai sejak pukul 16.30 WIB dengan rangkaian kegiatan yang tertata rapi dan penuh makna. Kehadiran Muhammad Zainul Majdi—tokoh nasional sekaligus Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode—menjadi daya tarik sekaligus sumber inspirasi bagi seluruh hadirin.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PW NWDI DKI Jakarta Dr. H. Muslihan Habib, MA bersama jajaran pengurus, para Ketua PD NWDI se-DKI Jakarta, Ketua PW NWDI Jawa Barat, para tokoh ulama dan habaib setempat, ibu-ibu Muslimat NWDI Jakarta, serta para jamaah dari lingkungan sekitar ma’had yang memenuhi lokasi acara dengan penuh antusias dan kekhidmatan.
Acara dipandu secara elegan oleh dua santriwati dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, mencerminkan semangat global sekaligus keislaman yang inklusif. Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Fatihah dan Shalawat Nahdlatain, kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Al-Furqan ayat 63–77 yang mengangkat tema Ibadurrahman—hamba-hamba Allah yang penuh kasih dan kemuliaan.
Sebelum memasuki sesi utama, para santri yang berprestasi dalam lomba adzan, tahfidz, dan mewarnai mendapat apresiasi. Satu per satu mereka maju dengan wajah penuh kebanggaan menerima piagam, piala, dan hadiah—sebuah simbol bahwa generasi Qur’ani tengah tumbuh dengan harapan besar.
Visi Ma’had: Mendidik, Mengabdi, dan Menginspirasi
Dalam sambutannya, TGM Hasan Asy'ari menyampaikan penghormatan mendalam atas kehadiran TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, seraya mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan agar beliau senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan dalam memimpin umat.
Ia juga memaparkan berbagai program strategis ma’had yang menunjukkan komitmen dalam membina generasi Islam. Salah satunya adalah pengiriman 12 santri dalam program Safari Ramadan ke Batam selama satu bulan penuh, yang kini telah menunjukkan hasil menggembirakan dengan adanya permintaan dari beberapa lembaga agar para santri tersebut menjadi tenaga pengajar.
Selain itu, kegiatan rutin seperti ngaji pasaran, kajian pekanan, hingga khataman Al-Qur’an terus berjalan secara konsisten. Bahkan, pada hari yang sama, ma’had juga menutup program pesantren kilat yang diikuti sekitar 30 santri TPQ dari lingkungan sekitar—sebuah langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak usia dini.
Dengan penuh kerendahan hati, beliau menutup sambutannya dengan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyambutan, sembari menegaskan bahwa nilai spiritual yang dihadirkan dalam majelis ini diharapkan menjadi “jamuan rohani” yang lebih bermakna.
Sentuhan Kepedulian: Santunan untuk Anak Yatim
Momen haru menyelimuti acara saat santunan diberikan kepada anak-anak yatim yang merupakan bagian dari keluarga besar ma’had. Penyerahan santunan secara langsung oleh TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi menjadi simbol nyata kepedulian dan kasih sayang di bulan suci Ramadan.
Pesan TGB: Menjadi Ibadurrahman di Tengah Tantangan Zaman
Dalam tausiyahnya, TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran. Ia mengajak umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, tidak hanya dibaca tetapi juga ditadabburi.
Mengacu pada nilai ukhuwah dalam Surah Al-Hujurat ayat 10–13, beliau menegaskan bahwa setiap konflik harus diselesaikan dengan kesadaran bahwa sesama mukmin adalah saudara. Ia juga mengingatkan bahaya ghibah, prasangka buruk, dan kebiasaan mencari kesalahan orang lain, serta pentingnya membangun budaya ta’aruf—saling mengenal, memahami, dan berkomunikasi dengan baik.
Lebih jauh, beliau menguraikan lima karakter utama Ibadurrahman sebagaimana dalam Surah Al-Furqan ayat 63–77:
Rendah hati dalam sikap dan perilaku, tidak sombong dan tidak memaksakan kehendak.
Bijak dalam merespons, mampu menahan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, termasuk hiruk-pikuk media sosial.
Tekun beribadah, khususnya dengan menghidupkan malam melalui qiyamul lail.
Gemar berdoa, dengan penuh kesadaran akan kelemahan diri dan harapan pada rahmat Allah.
Bijak mengelola harta, memastikan sumber yang halal dan penggunaan yang tepat.
Menurutnya, kerendahan hati adalah pintu utama bagi lahirnya akhlak mulia. Dari sikap itulah tumbuh keterbukaan, kesiapan menerima kebenaran, serta semangat untuk terus belajar dari siapa pun.
Ramadan, Hujan, dan Kebersamaan
Menjelang Maghrib, azan berkumandang mengakhiri rangkaian acara dengan penuh khidmat. Para jamaah menikmati hidangan berbuka puasa bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Meski sempat diguyur hujan, semangat kebersamaan tidak surut. Justru, momen tersebut semakin mempererat ikatan batin di antara para peserta.
Kegiatan ini bukan hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga meninggalkan jejak inspirasi yang mendalam—bahwa Ramadan adalah tentang berbagi, memperbaiki diri, dan menumbuhkan karakter Ibadurrahman dalam kehidupan nyata. (Amr/Red)
- Get link
- X
- Other Apps


Comments
Post a Comment