Isi Ceramah TGB DR KH Muhammad Zainul Majdi, MA di Ma'had Fityanul Ulum Cinere NWDI

 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Yang saya hormati para tokoh, para pimpinan majelis taklim, para pimpinan pesantren, para pimpinan yayasan, terlebih khusus shohibul bait dan seluruh keluarga besar Tuan Guru Muda Hasan Asy'ari.

Yang saya muliakan para ustaz, para pembimbing, yang kita doakan semoga senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, dan keistiqamahan dalam mendidik anak-anak kita di tempat yang mulia ini.

Yang saya hormati Bapak Dr. Muhammad Taufik, Dr. Muslihan Habib, Dr. Jatmansya, Al-Habib Ahmad bin Muhammad, para intelektual muda NWDI.

Dan yang paling saya cintai, ananda sekalian para santri dan santriwati yang hari ini kita saksikan penuh prestasi, dengan piala-piala di tangan kalian. MasyaAllah, semoga Allah memberkahi ilmu kalian semua.

Hadirin yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, pada sore hari ini kita dipertemukan dalam suasana yang sejuk, penuh keimanan dan ketakwaan, dalam keberkahan bulan suci Ramadan, serta dalam naungan cahaya Al-Qur’an.

Kegiatan kita hari ini sederhana, tetapi sangat mulia: silaturahim.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat, bahwa orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka setiap pertemuan seperti ini bukan sekadar berkumpul, tetapi bagian dari ibadah, bagian dari merawat ukhuwah.

Hadirin sekalian

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita satu metode yang luar biasa:
Allah sering menggambarkan masalah kehidupan manusia—baik konflik, perselisihan, maupun penyakit sosial—lalu di akhir ayat Allah memberikan solusi.

Ketika ada konflik di antara orang beriman, Allah tidak membiarkannya. Allah langsung memberi solusi:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara saudaramu.”

Artinya, konflik tidak boleh dipelihara. Jangan masalah kecil dibesar-besarkan. Jangan perbedaan pendapat menjadi permusuhan.

Kemudian Allah mengingatkan penyakit-penyakit sosial:

  • Saling berprasangka buruk

  • Saling menggunjing (ghibah)

  • Saling mencela

  • Mencari-cari kesalahan (tajassus)

Lalu Allah beri solusi dalam ayat berikutnya:

“Lita’aarafu” — saling mengenal.

Artinya:

  • Bangun komunikasi

  • Jangan telan mentah-mentah berita

  • Klarifikasi

  • Bertemu langsung

  • Berdialog dengan hati yang bersih

Silaturahim seperti hari ini adalah bagian dari ta’aruf yang diperintahkan oleh Allah.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Tadi kita mendengar bacaan dari Surah Al-Furqan tentang sifat ‘Ibadurrahman’ — hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya.

Ada lima sifat utama yang perlu kita renungkan:

1. Rendah Hati (Tawadhu’)

Mereka berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati, tidak sombong, tidak arogan.

Bukan yang paling banyak ibadah sunnah yang disebut pertama, tapi yang paling utama adalah akhlak sosial: rendah hati.

Hari ini kita melihat kesombongan di mana-mana—merasa paling benar, merendahkan orang lain. Itu bukan ciri hamba Allah, tapi ciri kebalikan dari itu.

2. Tidak Melayani Kebodohan

Jika berhadapan dengan orang jahil, mereka berkata: “Salam”.

Artinya:

  • Tidak semua harus ditanggapi

  • Tidak semua harus dikomentari

  • Tidak semua berita perlu kita baca

Di era media sosial:

  • Banyak fitnah

  • Banyak provokasi

  • Banyak hal tidak bermanfaat

Orang beriman itu selektif. Waktunya dijaga. Fokus pada yang mendekatkan kepada Allah.

3. Qiyamul Lail

Mereka bangun di malam hari, rukuk dan sujud kepada Allah.

Ramadan adalah momentum:

  • Tarawih

  • Tahajud

  • Mendekat kepada Allah

4. Banyak Berdoa

Mereka berdoa:
“Ya Allah, jauhkan kami dari azab neraka.”

Ini menunjukkan kerendahan hati:
Kita selamat bukan karena hebatnya amal kita, tapi karena rahmat Allah.

5. Bijak Mengelola Harta

Tidak boros, tidak kikir.

Harta itu akan ditanya:

  • Dari mana diperoleh

  • Untuk apa digunakan

Maka Islam mengajarkan keseimbangan: halal, baik, dan bermanfaat.


Hadirin yang dirahmati Allah

Dari semua itu, ada satu kunci besar:

👉 Rendah hati membuka pintu kebaikan lainnya.

Orang yang tawadhu:

  • Mau mendengar

  • Mau belajar

  • Mau menerima pendapat orang lain

Tidak ada satu orang pun yang memiliki semua kelebihan. Allah membagi kelebihan kepada banyak orang.

Maka:

  • Jangan merasa paling benar

  • Jangan menutup diri

  • Terus belajar dari siapa pun


Pesan untuk para santri

Gunakan waktu kalian dengan baik:

  • Belajar

  • Mengaji

  • Berprestasi

Jangan habiskan waktu pada hal yang tidak bermanfaat.

Kalian adalah generasi penerus umat ini.


Penutup

Mari kita syukuri pertemuan ini. Semoga silaturahim ini membawa keberkahan.

Semoga puasa kita diterima oleh Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai.

Allahumma laka shumna, wa bika aamanna, wa ‘ala rizqika aftharna.

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"