Syair Inspiratif Ke-762 Tiga Tingkatan Berpuasa Karya: Abu Akrom
Syair Inspiratif Ke-762
Tiga Tingkatan Berpuasa
Karya: Abu Akrom
Ada tiga tingkatan berpuasa,
Menurut Al-Ghazali dalam Ihya’-nya.
Mari kita renungi bersama,
Dengan sepenuh hati dan jiwa.
Puasa umum tingkatan pertama,
Puasa kebanyakan manusia.
Hanya menahan lapar dan dahaga,
Namun maknanya belum terasa.
Puasa khusus tingkatan kedua,
Menjaga anggota tubuh dari dosa.
Memelihara seluruh pancaindra,
Dari yang sia-sia dan nista.
Puasa khususul khusรปs yang ketiga,
Puasa hati sebenar-benarnya.
Menjaga diri dari riya dan prasangka,
Dari dengki, benci, dan angkara.
Mari kita bermuhasabah diri,
Di antara tiga tingkatan ini.
Semoga naik ke tingkat kedua,
Syukur-syukur hingga yang ketiga.
Bekasi, 2 Ramadan 1447 H/20 Februari 2026 M
Penjelasan Syair Inspiratif Ke-762
Tiga Tingkatan Berpuasa
Karya: Abu Akrom
๐ 1. Menelusuri Jejak Ilmu Imam Al-Ghazali
Pada bait pembuka, penyair langsung mengajak kita kembali kepada warisan ilmu dari Al-Ghazali, khususnya dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum al-Din.
Ada tiga tingkatan berpuasa,
Menurut Al-Ghazali dalam Ihya’-nya.
Mari kita renungi bersama,
Dengan sepenuh hati dan jiwa
Bait ini bukan sekadar pengantar, tetapi undangan untuk merenung. Puasa bukan hanya ritual tahunan, melainkan perjalanan ruhani. Dengan menyebut nama Al-Ghazali, penyair ingin menunjukkan bahwa pembahasan ini bukan sekadar opini, melainkan bersandar pada khazanah tasawuf dan keilmuan Islam yang mendalam.
Kalimat “Mari kita renungi bersama, dengan sepenuh hati dan jiwa” adalah seruan kolektif. Ramadan bukan hanya momentum individu, tetapi juga gerakan bersama untuk naik kelas dalam kualitas ibadah.
๐พ 2. Puasa Umum: Menahan Lapar, Namun Belum Menyentuh Jiwa
Puasa umum tingkatan pertama,
Puasa kebanyakan manusia.
Hanya menahan lapar dan dahaga,
Namun maknanya belum terasa.
Inilah level dasar. Secara fikih, sah. Secara hukum, terpenuhi. Namun secara ruhani, belum tentu hidup.
Puasa pada tingkatan ini hanya berhenti pada aspek jasmani:
-
Tidak makan
-
Tidak minum
-
Tidak melakukan pembatal puasa
Tetapi lisan masih berdusta, mata masih memandang yang tak pantas, hati masih menyimpan amarah.
Bait ini mengandung kritik halus namun penuh kasih. Penyair tidak menyalahkan, tetapi menyadarkan: apakah kita hanya sekadar lapar? Ataukah kita benar-benar berpuasa?
Karena Rasulullah ๏ทบ telah mengingatkan bahwa betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
๐ฟ 3. Puasa Khusus: Ketika Anggota Tubuh Turut Berpuasa
Puasa khusus tingkatan kedua,
Menjaga anggota tubuh dari dosa.
Memelihara seluruh pancaindra,
Dari yang sia-sia dan nista.
Inilah peningkatan kualitas. Bukan hanya perut yang berpuasa, tetapi:
-
Mata berpuasa dari pandangan haram
-
Telinga berpuasa dari ghibah
-
Lisan berpuasa dari dusta
-
Tangan berpuasa dari kezaliman
-
Kaki berpuasa dari langkah menuju maksiat
Pada tingkatan ini, seseorang mulai merasakan manisnya puasa. Ada ketenangan. Ada kedekatan dengan Allah. Ada kehati-hatian dalam setiap gerak.
Puasa bukan lagi kewajiban yang berat, melainkan kebutuhan ruhani.
๐ 4. Puasa Khususul Khusus: Puasanya Hati dan Jiwa
Puasa khususul khusรปs yang ketiga,
Puasa hati sebenar-benarnya.
Menjaga diri dari riya dan prasangka,
Dari dengki, benci, dan angkara.
Inilah puncak perjalanan. Pada tingkat ini, bukan hanya tubuh yang berpuasa, tetapi hati ikut disucikan. Tidak ada riya. Tidak ada ingin dipuji. Tidak ada kebencian tersembunyi. Tidak ada hasad yang membakar diam-diam.
Puasa di sini menjadi proses tazkiyatun nafs — penyucian jiwa.
Seseorang yang mencapai level ini:
-
Beramal diam-diam
-
Memaafkan tanpa diumbar
-
Bersedekah tanpa diketahui
-
Menangis dalam sujud tanpa ingin dilihat
Puasa berubah menjadi perjalanan menuju keikhlasan sejati.
๐ 5. Muhasabah: Di Manakah Posisi Kita?
Mari kita bermuhasabah diri,
Di antara tiga tingkatan ini.
Semoga naik ke tingkat kedua,
Syukur-syukur hingga yang ketiga.
Bait penutup adalah doa sekaligus ajakan evaluasi diri.
Penyair tidak memaksa kita langsung ke tingkat tertinggi. Ia realistis dan penuh hikmah:
Minimal, naik dari tingkat pertama ke tingkat kedua. Dan jika Allah karuniakan, semoga sampai pada tingkat ketiga.
Inilah indahnya syair ini:
Tidak menghakimi, tetapi mengajak.
Tidak menyindir keras, tetapi menyentuh lembut.
๐บ Pesan Inspiratif untuk Ramadan 1447 H
Momentum ini menjadi saksi bahwa Ramadan bukan sekadar kalender yang berulang, tetapi kesempatan naik derajat.
Puasa sejati bukan hanya menahan lapar,
tetapi menahan diri dari menjadi pribadi yang sama seperti sebelum Ramadan.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang berpuasa, tetapi menjadi jiwa yang dipuasakan dari dunia, dan dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Comments
Post a Comment