Cerpen Ke-24 Kepercayaan di Masjid As-Salam
Cerpen Ke-24 Kepercayaan di Masjid As-Salam
Rabu, 4 Januari 2026, menjadi hari yang tak terlupakan bagi saya. Bersama segenap tuan guru dan para peserta didik SMP Laboratorium Jakarta, kami mengikuti kegiatan field trip ke tiga destinasi sekaligus: Lanud Halim Perdanakusuma, SR12, dan berkuda. Perjalanan edukatif ini bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam.
Kami tiba di kawasan SR12 Bogor menjelang waktu salat Zuhur. Tanpa ragu, seluruh rombongan beranjak menuju Masjid As-Salam yang berdiri megah di tengah kompleks perusahaan tersebut. Masjid itu tampak indah, bersih, dan modern. Terasa jelas bahwa masjid ini dibangun dengan kesungguhan hati. Dari penuturan pengelola, kami mengetahui bahwa pemilik SR12 berlatar belakang santri dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai keagamaan. Bagi beliau, ibadah—khususnya salat—adalah prioritas utama, sehingga disediakanlah tempat ibadah yang terbaik.
Suara azan Zuhur pun berkumandang. Kami telah berwudu dan menunggu dengan khusyuk di dalam masjid. Saat itu kami mengetahui bahwa tidak ada imam tetap di masjid tersebut. Siapa pun yang mampu dipersilakan untuk maju. Di luar dugaan, para jamaah setempat mempercayakan saya untuk memimpin salat Zuhur berjamaah. Dengan niat tulus dan penuh rasa syukur, amanah itu saya terima.
Tak berhenti di situ, ketika waktu salat Asar tiba, pengurus masjid kembali mempersilakan saya untuk menjadi imam. Bagi saya, ini adalah kepercayaan besar yang patut disyukuri. Alhamdulillah, kesempatan ini menjadi pengingat bahwa memimpin salat bukan sekadar tugas, melainkan bentuk ikhtiar untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dan menghidupkan syiar Islam di mana pun berada.
Yang membuat hati semakin terharu, jamaah yang hadir begitu beragam. Tidak hanya para guru dan peserta didik SMP Laboratorium Jakarta, tetapi juga para karyawan SR12 serta tamu-tamu yang sedang berkunjung turut serta dalam salat berjamaah. Masjid As-Salam benar-benar menjadi ruang pertemuan iman bagi siapa saja yang datang.
Dari pengalaman ini, saya belajar sebuah pelajaran berharga: ketika kita dipandang mampu dan diminta untuk mengemban amanah sebagai imam atau peran kebaikan lainnya, maka laksanakanlah dengan penuh tanggung jawab. Jangan ragu untuk melangkah, karena bisa jadi melalui peran kecil itulah agama Allah ditegakkan dan keberkahan diturunkan.
Semoga kisah sederhana ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih peduli, lebih berani mengambil peran, dan siap hadir ketika agama Islam membutuhkan kita—dalam bentuk apa pun dan di mana pun kita berada. ๐ฟ
Penulis : Marolah Abu Akrom

Comments
Post a Comment