Hikmah Pagi Ke-3 "Hikmah dan Manfaat Terciptanya Mata"

 


Hikmah Pagi Ke-3 "Hikmah dan Manfaat Terciptanya Mata"

Mata adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada setiap insan. Dengan sepasang mata, manusia mampu menyaksikan dunia yang penuh warna, cahaya, dan keindahan. Dalam satu kedipan, seakan-akan pandangan kita menjelajah langit yang tinggi, menyapu cakrawala luas, bahkan memandang bintang-bintang yang jauh tak terhingga.

Namun secara ilmiah, bukan mata yang mengalahkan kecepatan cahaya. Justru karena cahaya yang Allah ciptakan bergerak sangat cepatlah kita dapat melihat. Cahaya dari matahari memerlukan sekitar delapan menit untuk sampai ke bumi, sementara cahaya dari bintang-bintang memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan jutaan tahun. Ketika cahaya itu tiba di mata kita, dalam sepersekian detik sistem penglihatan memprosesnya menjadi gambar yang utuh. Betapa luar biasanya ciptaan Allah ini.

Di dalam mata terdapat kornea yang bening menerima cahaya, pupil yang mengatur jumlah cahaya, lensa yang memfokuskan, retina yang dipenuhi jutaan sel peka cahaya (sel batang dan kerucut), serta saraf optik yang membawa sinyal ke otak. Semua bekerja tanpa kabel, tanpa suara, tanpa mesin. Kamera tercanggih pun hanyalah tiruan sederhana dari sistem yang Allah ciptakan dalam tubuh manusia.

Para ilmuwan dan dokter spesialis mata mempelajari organ ini bertahun-tahun, namun semakin dalam diteliti, semakin tampak betapa rumit dan sempurnanya strukturnya. Ini adalah tanda kebesaran Allah, bukti bahwa manusia hanyalah makhluk yang belajar memahami sebagian kecil dari rahasia ciptaan-Nya.

Hikmah Terciptanya Mata

1. Sebagai Tanda Kekuasaan Allah
Mata adalah ayat kauniyah—tanda kebesaran Allah di dalam diri manusia. Ia mengajarkan kita bahwa tidak ada yang tercipta sia-sia.

2. Sarana Ilmu dan Peradaban
Dengan mata, manusia membaca, menulis, meneliti, dan membangun peradaban. Tanpa penglihatan, perjalanan ilmu akan jauh lebih berat.

3. Jalan Menyaksikan Keindahan Ciptaan-Nya
Langit yang biru, hijaunya pepohonan, wajah orang tua yang penuh kasih—semuanya menjadi pengingat agar kita bersyukur.

4. Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Mata bukan sekadar alat melihat, melainkan amanah. Kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban: ke mana ia memandang dan untuk apa ia digunakan.

Bayangkan jika mata ini tidak ada. Betapa gelap dunia kita. Kita tidak mampu melihat wajah orang-orang tercinta. Kita tidak dapat menyaksikan indahnya alam semesta. Bahkan kita tidak bisa membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an yang tertulis rapi sebagai petunjuk hidup.

Maka syukur yang sejati bukan hanya ucapan Alhamdulillah, tetapi penggunaan yang benar. Gunakan mata untuk membaca Al-Qur’an, untuk menuntut ilmu, untuk melihat kebaikan, dan untuk memandang sesama dengan kasih sayang. Jangan sampai mata yang begitu mulia digunakan untuk melihat hal-hal yang dilarang, sehingga berubah dari nikmat menjadi sebab penyesalan di akhirat.

Semoga mata ini menjadi saksi amal saleh kita. Semoga ia meneteskan air mata karena takut dan cinta kepada Allah. Semoga kelak ia bercahaya pada hari kiamat dan menjadi sebab kita dipersilakan memasuki surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Penulis : Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA/guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"