Cerpen Ke-26: Seulas Senyum di Ujung Senja Ramadan
Cerpen Ke-26: Seulas Senyum di Ujung Senja Ramadan
Kamis, 19 Februari 2026.
Hari pertama puasa Ramadan tahun ini terasa begitu syahdu. Sejak siang, hati sudah berdebar menanti waktu berbuka. Sore itu, langit mulai berwarna jingga ketika saya bersiap menuju Masjid At-Tawwabin yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Malam itu, saya mendapat amanah menjadi imam salat Magrib.
Sebelum berangkat, saya bertanya kepada istri,
“Mah, ada kurma?”
Istri saya menjawab, “Ada.”
Saya pun menambahkan, “Tolong ambilkan satu atau tiga.”
Tak lama kemudian, istri saya datang membawa satu sachet Promag. Saya terdiam sejenak, lalu tersenyum heran.
“Mah… kok Promag? Saya minta kurma.”
Istri saya pun ikut bingung. “Lho, tadi terdengar seperti promag… kirain papa minta obat maag.”
Kami pun tertawa kecil. Memang sepintas terdengar mirip—kurma dan promag—apalagi di tengah kesibukan sore menjelang berbuka. Suasana yang tadinya tegang karena persiapan ke masjid, mendadak cair oleh canda sederhana itu.
“Kurma, Mah… bukan Promag,” ujar saya sambil tertawa.
Akhirnya istri saya membuka kulkas dan mengambil tiga biji kurma. Ia menyerahkannya dengan senyum hangat.
“Nah, ini kurmanya.”
“Terima kasih ya, Mah. Nanti saya pakai untuk berbuka di masjid.”
Saya pun berangkat. Sesampainya di masjid, suasana terasa teduh dan khusyuk. Saya menyalakan ampli, lalu duduk membaca beberapa ayat terakhir dari Surah Al-Kahfi. Hati terasa tenang, meski tubuh lelah setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Tak lama kemudian, suara azan Magrib berkumandang. Saya berbuka dengan sebutir kurma dan beberapa teguk air. Sederhana, namun terasa begitu nikmat. Alhamdulillah, puasa pertama ini menghadirkan rasa syukur yang mendalam.
Dari peristiwa kecil di rumah tadi, saya belajar satu hal:
Dalam kehidupan, terutama ketika menerima perintah atau amanah dari siapa pun, kita perlu fokus dalam mendengar. Kesalahan kecil dalam menangkap pesan bisa berujung pada kesalahan dalam tindakan. Mendengar dengan saksama adalah bagian dari adab dan tanggung jawab.
Ramadan bukan hanya melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih ketelitian, kesabaran, dan keharmonisan dalam keluarga.
Terkadang, dari “kurma dan promag”, Allah menghadirkan senyum dan pelajaran berharga di awal Ramadan. ๐

Comments
Post a Comment