Cerpen Ke-23: Ahad Pagi yang Penuh Makna
Cerpen Ke-23: Ahad Pagi yang Penuh Makna
Ahad pagi, 1 Februari 2026, saya berangkat ke Pasar Gabus sejak matahari baru saja menyapa. Tujuan saya sederhana: membeli beberapa kebutuhan untuk warung kecil kami di rumah—mi, terasi, saus, dan beberapa keperluan lainnya. Tak lupa, saya juga membeli bubur ayam untuk sarapan istri tercinta saya, Fahrunnisa.
Biasanya, Ahad pagi adalah waktu kami berdua pergi ke pasar bersama. Selain belanja warung, kami juga membeli kebutuhan makanan untuk anak kami, Maulidia, yang sedang mondok di Pondok Pesantren Al Fath Jalen, Bekasi. Namun pagi ini berbeda. Istri saya tidak ikut karena kondisinya kurang sehat. Mungkin kelelahan setelah aktivitas padat di hari Sabtu—mengajar, lalu menghadiri akad nikah dan resepsi salah seorang admin SinarLIMA, Rayhan Muhammad Buti, yang berlangsung sejak Sabtu lalu.
Belanja di Pasar Gabus Alhamdulillah berjalan lancar. Hanya saja, ketika membeli bubur ayam, saya harus mengantre cukup lama. Banyak orang membeli bubur untuk sarapan pagi, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk keluarga di rumah. Setelah giliran saya tiba, bubur pun saya bayar, lalu saya langsung pulang.
Sesampainya di rumah, istri saya menyambut dengan senyum, lalu bertanya pelan,
“Mana pisang dan singkongnya?”
Saya terdiam sejenak. Masya Allah… benar juga.
“Mohon maaf, istriku,” jawab saya. “Saya lupa.”
Padahal, saat mengantre bubur tadi, sempat terlintas di pikiran untuk membeli pisang dan singkong. Entah bagaimana, pikiran itu menguap begitu saja.
Saya pun menawarkan diri kembali ke pasar.
“Tidak usah,” kata istri saya.
Namun saya bersikeras, “Tidak apa-apa. Pisang itu penting untuk pencernaan, dan Mama juga perlu pisang untuk minum obat. Tanpa pisang, Mama tidak bisa minum obat. Lagipula singkong nanti dibutuhkan untuk malam Nisfu Sya’ban, untuk suguhan jamaah.”
Istri saya tersenyum, lalu berkata lembut,
“Perasaan setiap belanja ada saja yang lupa.”
Saya pun menjawab sambil tersenyum,
“Iya, Mama, maaf. Ada saja yang kelupaan. Maklum, banyak pikiran. Begitulah wataknya manusia—tempatnya lupa.”
Dari peristiwa kecil di Ahad pagi ini, saya belajar satu hal penting: amanah sekecil apa pun harus dijaga dengan teliti, karena yang terlupa sering kali justru yang paling dibutuhkan. Dan yang lebih berharga dari itu semua, saya kembali belajar tentang kesabaran dan kedewasaan seorang istri—yang memilih memahami, bukan marah; memaklumi, bukan menghakimi.
Ahad pagi pun terasa sederhana, namun penuh makna.
Penulis: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA dan guru BK SMP Nahdlatul Wathan Jakarta dan SMP Laboratorium Jakarta)

Comments
Post a Comment