Cerita Pendek Ke-25: Ban Dalam dan Pelajaran Kesabaran

 


Cerita Pendek Ke-25: Ban Dalam dan Pelajaran Kesabaran

Ahad malam, selepas salat Isya, 9 Februari 2026, saya melangkah menuju Bengkel Jaya Motor yang letaknya tak jauh dari rumah. Bengkel itu masih berada di wilayah yang sama dengan tempat tinggal saya, yakni Desa Sriamur. Maksud kedatangan saya sederhana: mengganti ban dalam motor yang sudah beberapa kali bocor.

Masalahnya ternyata sepele, tetapi berdampak besar. Ban luar motor saya berukuran 17, namun sebelumnya terpasang ban dalam ukuran 18. Ketidaksesuaian inilah yang diduga kuat menjadi pemicu ban sering bocor, karena ban dalam menjadi terlalu tegang di dalam ban luar.

Sesampainya di bengkel yang berada tepat di depan rumah pemiliknya, saya mengucapkan salam,
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Yang menyambut saya ternyata adalah istri sang mekanik. Suaminya sedang tidak berada di rumah.

“Bu, bapak ada? Saya mau ganti ban dalam, soalnya sudah dua kali bocor,” tanya saya sopan.

“Maaf Pak, suami saya tidak ada di rumah. Tapi saya coba hubungi dulu,” jawabnya ramah.

Tak lama kemudian, ia menyampaikan pesan dari suaminya agar saya menunggu sebentar. Sang mekanik sedang keluar dan akan segera kembali. Saya pun menunggu dengan sabar.

Beberapa saat kemudian, mekanik itu datang. Saya langsung menanyakan ketersediaan ban dalam baru sesuai ukuran motor saya. Sayangnya, stok ban dalam baru ukuran tersebut sedang habis. Yang tersedia hanya ban dalam untuk motor matic.

“Kalau ban dalam second ada, Pak?” tanya saya berharap.

Ia pun mencari dan menemukan satu ban dalam bekas yang kondisinya masih cukup baik, meski terdapat satu lubang kecil yang bisa ditambal.

“Ini masih lumayan bagus, Pak. Tapi ada bocor sedikit, nanti saya tambal dulu,” katanya.

Saya pun mengangguk setuju. Daripada tidak bisa digunakan, apalagi besok pagi saya harus berangkat mengajar ke Jakarta. Ban depan dibongkar, ban dalam ditambal, lalu dipasang kembali. Setelah selesai, saya mengucapkan terima kasih dan pulang.

Namun, pagi harinya kejutan datang. Ban depan motor kembali kempes. Meski begitu, saya masih berusaha tenang. Saya pompa ban tersebut secukupnya, lalu mengendarai motor pelan-pelan kembali ke Bengkel Jaya Motor.

“Pak, bannya kempes lagi,” kata saya setibanya di sana.

Ban pun dibuka kembali dan diperiksa. Menurut sang mekanik, tambalan sebelumnya kurang sempurna karena terlalu ke pinggir. Seharusnya, tambalan tepat berada di tengah titik kebocoran. Ia pun menambalnya ulang dengan lebih rapi dan kuat.

Alhamdulillah, kali ini ban benar-benar aman dan motor siap digunakan. Sayangnya, pagi itu hujan turun dengan deras. Saya pun menunggu sejenak sambil berbincang ringan di bengkel. Ketika hujan mulai reda, saya pamit dan akhirnya berangkat menuju Jakarta untuk mengajar.

Dari peristiwa sederhana ini, saya belajar bahwa dalam hidup sering kali kita dihadapkan pada kejadian di luar dugaan. Yang dibutuhkan bukan emosi atau menyalahkan, melainkan kesabaran, ikhtiar, dan sikap lapang dada dalam menyelesaikan masalah.

Karena begitulah perjalanan hidup manusia—ada suka dan duka, ada senang dan susah—semuanya silih berganti, menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.

Penulis: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah 

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"