Cepen Ke-27 Buah Kebaikan yang Berbuah Manis


Anda bilang:


ChatGPT bilang:

Cepen Ke-27 Buah Kebaikan yang Berbuah Manis

Sabtu, 22 Februari 2026, suasana siang menjelang sore di Perumahan Vila Gading Harapan 2 Blok A terasa begitu hangat dan bersahabat. Seorang tamu istimewa datang berkunjung ke rumah saya—Erik Setiawan Qodri, atau yang akrab disapa Mas Salamun, sahabat dari Perumahan Suropati.

Ia datang dengan senyum tulus dan membawa dua sisir pisang raja sere yang sudah matang. Pisang itu bukan sembarang pisang—melainkan hasil dari kebun kecil yang ia rawat sendiri di depan rumahnya. Menariknya, bibit pisang tersebut dahulu berasal dari saya, yang saya tanam sekitar dua tahun lalu di samping rumah.

Waktu itu, Mas Salamun datang meminta bibit untuk ditanam di lahan kosong depan rumahnya. Kini, lahan itu telah hidup dengan berbagai tanaman—pisang, cabai, singkong, kelor, dan lainnya. Melihat hasilnya, hati saya terasa hangat. Lebih dari sekadar hasil panen, yang membuat haru adalah ingatannya terhadap kebaikan kecil yang pernah saya berikan.

“Ini sedikit dari saya, Ustadz,” ucapnya sambil menyerahkan pisang.

Saya dan istri menerima dengan penuh syukur dan haru. Kebaikan, sekecil apa pun, ternyata bisa tumbuh dan kembali dengan cara yang tak terduga.

Setelah berbincang santai, saya mengajaknya keluar rumah. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada pohon sukun di halaman.

“Mas, mau buah sukun?” tanya saya.

“Iya, mau,” jawabnya dengan antusias.

Saya pun bersiap. Dengan membawa galah panjang yang ujungnya diberi pisau, saya mulai memanjat pohon sukun yang cukup tinggi. Dari bawah terlihat tidak banyak buah, tapi ketika sampai di atas, MasyaAllah—ternyata ada sekitar 12 buah sukun yang sudah tua, bahkan beberapa sudah matang dan sedikit dimakan kelelawar.

Namun, prosesnya tidak mudah. Angin kencang sempat berhembus, membuat hati sedikit gentar. Dari bawah, Mas Salamun berseru,
“Hati-hati, Ustadz!”

Saya menguatkan diri, menenangkan hati, dan terus melanjutkan. Alhamdulillah, satu per satu buah sukun berhasil diambil. Di bawah, Mas Salamun sibuk mengumpulkan buah yang jatuh—ada yang masuk got, tersangkut di semak, bahkan menggelinding ke jalan.

“Saya nggak nyangka, Ustadz… saya kira cuma tiga atau empat,” katanya takjub.

Kami pun tersenyum penuh syukur.

Istri saya kemudian memberikan dua buah sukun untuknya. Wajah Mas Salamun terlihat sangat senang—maklum, buah sukun jarang ditemui di daerahnya. Tak berhenti di situ, ia juga melihat tanaman lengkuas dan meminta sedikit untuk bumbu masak.

Saya pun mengambil linggis, mencabut beberapa batang lengkuas, bahkan sekalian memberikan bibitnya agar bisa ia tanam di rumah. Ia juga membawa bibit sukun, berharap suatu saat bisa memiliki pohon besar seperti yang ada di halaman kami.

Setelah semua selesai, ia pun pamit pulang dengan wajah cerah—membawa dua buah sukun, bibit sukun, dan lengkuas, serta hati yang penuh rasa syukur.

Namun, kisah itu belum selesai.

Sesampainya di rumah, ia langsung menanam bibit sukun tersebut. Tapi tak lama kemudian, sebuah kejadian tak terduga terjadi—bibit itu dicabut oleh seseorang. Ternyata, yang melakukannya adalah Pak RT setempat.

Mas Salamun terkejut dan sedikit kecewa. Namun setelah ditelusuri, kemungkinan besar Pak RT tidak mengetahui bahwa itu adalah tanaman yang sengaja ditanam dan memiliki manfaat besar.

Saya pun menenangkannya melalui pesan WhatsApp,
“Mas, nanti ambil lagi saja bibitnya. Di sini masih ada.”

Ia pun menerima dengan lapang dada.

Dari peristiwa ini, ada hikmah yang begitu dalam: bahwa kebaikan harus terus ditanam, meski kadang belum dipahami oleh orang lain. Yang penting, kita tetap berbuat baik, bersabar, dan menjaga niat.

Manfaat Buah Sukun untuk Kesehatan

Buah sukun bukan hanya lezat, tetapi juga kaya manfaat, di antaranya:

  • Menjaga kesehatan jantung karena kandungan serat dan kalium

  • Membantu menurunkan tekanan darah

  • Baik untuk pencernaan

  • Sumber energi alami karena karbohidrat kompleks

  • Membantu mengontrol gula darah

  • Mengandung antioksidan untuk menangkal radikal bebas

  • Baik untuk kesehatan kulit dan daya tahan tubuh


Penutup

Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, akan tumbuh dan berbuah pada waktunya. Balasan tidak harus sepadan, cukup dengan keikhlasan. Dan ketika ada hal yang tidak berjalan sesuai harapan, bersabarlah—karena bisa jadi itu hanya soal kurangnya komunikasi.

Seperti pohon sukun itu… meski sempat dicabut, bibit kebaikan tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan selalu menemukan tanah yang tepat untuk tumbuh kembali.

Penulis: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah (Jurnalis media SinarLIMA, penyair, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

Comments

Popular posts from this blog

Khutbah Jum’at Edisi 19 Desember 2025 “Hidup Tergantung Prasangka"

Khutbah Jum'at Edisi 11 April 2025 "Halal Bihalal Dan Funsinya"

Khutbah Jum’at Edisi 3 Oktober September 2025 "Hakikat Hidup Adalah Ujian"