Cerpen : Sugesti, Ikhtiar, dan Sebuah Pelajaran
Cerpen : Sugesti, Ikhtiar, dan Sebuah Pelajaran
Hari ini, Jumat 9 Januari 2026, seharusnya anak saya, Maulidia Fakhma Hayati, kembali ke pondoknya, Pondok Pesantren Al Fath Jalen, yang beralamat di Jalen, Jalan Raya Jejalen Jaya, Kampung Kebon, Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Rencana keberangkatan sebenarnya telah disusun matang, yakni selepas salat Zuhur.
Namun karena saya masih memiliki kewajiban mengajar di SMP Laboratorium Jakarta, keberangkatan pun diundur hingga selepas salat Asar.
Sejak sehari sebelumnya, sang ibu telah berupaya maksimal menyiapkan seluruh kebutuhan putrinya. Pakaian, baju, tas, dan perlengkapan lainnya disusun rapi dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang. Semuanya telah siap, tinggal menunggu waktu berangkat.
Sekitar pukul 15.15 WIB, saya berangkat dari sekolah belum melaksanakan salat Asar. Dalam perjalanan pulang, saya singgah dan menunaikan salat Asar di Masjid At-Taqwa, sebuah masjid di pinggir jalan yang menjadi tempat persinggahan penuh ketenangan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju rumah.
Alhamdulillah, sekitar pukul 16.30 WIB saya telah tiba di rumah kami di Perumahan Vila Gading Harapan 2 Blok A. Keberangkatan ke pondok dilakukan bertiga: saya, istri, dan keponakan.
Seluruh barang bawaan sudah tersedia dan siap diangkut. Namun sangat disayangkan, menjelang keberangkatan, Maulidia tiba-tiba mengeluh pusing dan batuk. Kami menyadari, keadaan seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Ada kalanya rasa enggan, kelelahan batin, atau kemalasan yang tak disadari berubah menjadi sugesti. Awalnya tubuh sehat, namun karena sugesti yang keliru, akhirnya benar-benar terasa sakit.
Sesampainya di pondok pesantren, kami bertemu dengan Umi, pimpinan Yayasan Pesantren Al Fath. Kami menyampaikan kondisi Maulidia yang mendadak pusing dan batuk. Melihat keadaannya, Umi dengan penuh kebijaksanaan menyarankan agar Maulidia segera berobat dan, insyaallah, keesokan harinya, Sabtu 10 Januari 2026, kembali ke pondok.
Malam itu, selepas Maghrib, saya dan istri pun mengantarkannya berobat ke dokter di daerah Pisangan. Dokter berpesan agar Maulidia tidak malas belajar, senantiasa menjaga kesehatan, dan tetap melanjutkan pendidikan di pondok pesantren hingga tamat SMK. Bahkan beliau menambahkan, jika kelak ingin melanjutkan kuliah kedokteran, itu adalah pilihan yang sangat baik.
Sejalan dengan nasihat dokter, Umi sebelumnya juga mengingatkan dengan sangat mendalam bahwa sugesti memiliki pengaruh besar. Jika seseorang meyakini dirinya kuat dan sehat, maka ia akan mampu menjalankan tugas dan kewajibannya. Namun jika terus-menerus mensugesti diri lemah dan tidak mampu, maka itulah yang perlahan akan menjadi kenyataan.
Dan benar saja, sepulang dari dokter, sesampainya di rumah, Maulidia tampak jauh lebih segar. Batuknya tinggal sedikit. Seakan terbukti bahwa sakit yang dirasakan sebelumnya lebih dipengaruhi oleh sugesti. Sebelum meminum obat, ibunya dengan penuh perhatian terlebih dahulu menemaninya makan.
Kisah hari ini menjadi pelajaran berharga bagi kami sekeluarga. Betapa pentingnya membangun sugesti positif, keyakinan diri, dan kepercayaan kepada Allah. Karena apa yang tertanam dalam pikiran, itulah yang akan terwujud dalam kenyataan. Jika sugesti kita negatif, maka negatif pula hasilnya. Namun jika sugesti kita positif, insyaallah kebaikanlah yang akan menyertai langkah kita.
Penulis : Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA)
.png)
Comments
Post a Comment