Cerpen Ke-9 : Malam di Bengkel dan Pelajaran Kehidupan
Cerpen Ke-9 : Malam di Bengkel dan Pelajaran Kehidupan
Pada Ahad malam menjelang Senin, ba’da salat Isya, 11 November 2026, saya pergi ke bengkel langganan yang biasa saya datangi. Tujuan kedatangan saya malam itu adalah untuk mengecek kondisi motor Honda milik saya serta memperbaiki beberapa komponen yang mengalami kerusakan. Pada kesempatan ini, saya tidak mengganti oli, melainkan lebih fokus pada perbaikan bagian yang memang sudah mendesak.
Perhatian utama saya tertuju pada ban depan. Ban tubeless tersebut sudah terlalu sering ditambal. Meskipun sebelumnya masih bisa digunakan, nyatanya kebocoran tetap terjadi. Kondisi ban yang sudah cukup lama membuatnya tidak lagi bisa diatasi hanya dengan tambal ban seperti pada umumnya. Karena bagian luar ban masih terlihat layak dan demi penghematan, diputuskan untuk memasang ban dalam sebagai solusi agar motor tetap dapat digunakan.
Saya berharap, dengan dipasangnya ban dalam ini, motor dapat digunakan untuk perjalanan jauh menuju Jakarta pada Senin esok, guna melaksanakan tugas mengajar di SMP Nahdlatul Wathan Jakarta.
Sesampainya di bengkel, saya menyampaikan kepada mekanik,
“Pak, mohon ban depan saya dipasangi ban dalam saja. Ban tubeless ini sudah tidak bisa ditambal lagi karena meskipun sudah beberapa kali ditambal, tetap bocor.”
Mekanik menjawab dengan ramah bahwa ban dalam biasa yang murah tidak tersedia. Yang ada hanyalah ban dalam berkualitas baik, merek Federal, dengan harga Rp60.000. Tanpa ragu saya menjawab,
“Tidak apa-apa, Pak. Yang penting aman dan nyaman untuk perjalanan jauh.”
Saat mekanik melakukan pengecekan lanjutan, ia menemukan bahwa laher roda sudah mengalami kerusakan.
“Pak, lahernya sudah tidak bagus dan sebaiknya segera diganti,” katanya.
Saya pun bertanya, “Berapa harganya?”
“Rp35.000,” jawabnya.
“Baik, sekalian saja diganti demi keamanan dan keselamatan selama di perjalanan,” jawab saya.
Sambil menunggu proses pemasangan ban dalam dan penggantian laher, saya duduk di pinggir bengkel. Malam itu suasana jalan masih ramai oleh lalu lalang motor dan mobil. Beberapa anak muda tampak duduk santai di sekitar bengkel sambil bermain gawai. Bengkel pun cukup ramai pelanggan, mungkin karena hari itu masih suasana libur, sehingga meskipun malam hari, banyak orang memanfaatkan waktu untuk menservis kendaraan mereka.
Dari kejadian sederhana ini, saya memetik sebuah pelajaran berharga. Segala sesuatu memiliki batas usia. Ban tubeless yang dahulu begitu kuat dan tangguh, seiring waktu akhirnya melemah dan tidak lagi dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Agar tetap bisa digunakan, diperlukan solusi lain, yaitu dengan memasang ban dalam.
Begitu pula dengan kehidupan manusia. Apa pun yang kita miliki pada akhirnya akan berakhir. Yang kekal dan abadi hanyalah keimanan dan amal saleh, bekal terbaik ketika kelak kita menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penulis: Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA)

Comments
Post a Comment