Cerpen Ke-6 : Pelajaran dari Sebuah Globe
Cerpen Ke-6 : Pelajaran dari Sebuah Globe
Sabtu, 10 Januari 2026, sekitar pukul 11.30 WIB, menjadi siang yang penuh makna di lingkungan Sekolah Laboratorium Jakarta. Hari itu saya mendapat kesempatan membantu Bapak Momon Darmawan, S.Pd., Kepala SMK Laboratorium Jakarta, bersama beberapa rekan guru dan staf, untuk mengambil serta menata barang-barang demi melengkapi ruang Laboratorium IPA.
Di antara tugas kecil yang saya lakukan, saya membantu Pak Momon mengambil tiga buah globe—peta dunia—dari ruang Laboratorium IPA lantai 3 SMP Laboratorium Jakarta. Dengan penuh kehati-hatian, ketiga globe tersebut berhasil saya bawa dan diletakkan ke dalam mobil, karena memang bersifat pinjaman dan akan dikembalikan ke salah satu sekolah tempat istri beliau mengajar.
Namun, di situlah pelajaran itu dimulai. Ternyata, satu dari tiga globe tersebut adalah milik SMP Laboratorium Jakarta. Dengan niat baik, saya segera mengambilnya kembali dari mobil untuk dikembalikan ke lantai 3. Tak disangka, saat dalam perjalanan, pegangan globe itu terlepas dari tangan saya. Globe tersebut terbuka, terbelah, dan sedikit retak pada bagian sambungannya. Jantung saya berdegup lebih kencang—ada rasa kaget, cemas, dan khawatir bercampur jadi satu.
Saya segera meminta bantuan Pak Deden. Namun, takdir berkata lain. Yang akhirnya turun tangan memperbaiki justru Bapak Momon sendiri. Dengan ketenangan dan keteladanan seorang pemimpin, beliau berusaha memasangnya kembali. Saya pun mengucapkan terima kasih dengan tulus atas bantuannya.
Meski sudah terpasang, saya merasa sambungannya belum cukup kuat. Maka saya berinisiatif menggunakan isolasi untuk mengikat bagian luar sambungan agar globe tersebut tetap utuh dan aman digunakan. Rasa gelisah masih sempat menyelinap, namun kembali Pak Deden menenangkan saya dengan kata-kata yang menyejukkan.
Alhamdulillah, globe itu akhirnya kembali ke tempatnya di ruang Laboratorium IPA. Insya Allah, ia tetap bisa digunakan oleh siswa-siswi Sekolah Laboratorium Jakarta untuk mengenal dan memahami peta dunia.
Semua alat ini dipinjam dari sekolah luar karena sehari sebelumnya SMK Laboratorium Jakarta menjalani pemeriksaan dari Dinas Pendidikan terkait program sekolah gratis yang telah berjalan selama satu semester. Bahkan, kabarnya akan ada pemeriksaan lanjutan pekan depan. Kita doakan semoga semuanya berjalan lancar, mendapat respons positif, dan memperoleh nilai terbaik dari tim visitasi Dinas Pendidikan Jakarta Timur.
Dari kejadian sederhana hari ini, saya belajar satu hal penting: kehati-hatian adalah amanah. Barang sekecil apa pun, terlebih yang berharga dan bermanfaat bagi banyak orang, harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab. Karena kelalaian kecil bisa berujung pada kerugian besar. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berhati-hati, menjaga, dan menghargai setiap amanah yang dipercayakan kepada kita.
Penulis: Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA, guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

Comments
Post a Comment