Cerpen Ke-5 : Pelajaran Pagi dari Sebuah Motor
Cerpen Ke-5 : Pelajaran Pagi dari Sebuah Motor
Sabtu pagi, 10 Januari 2025, udara masih terasa dingin ketika saya baru saja pulang dari masjid selepas salat Subuh. Niat hati ingin bersiap lebih awal karena hari ini saya mendapat tugas menjaga PPDB di Sekolah Laboratorium Jakarta. Namun, sebuah kabar kecil menguji kesabaran di awal hari.
Istri saya berkata pelan, “Motor Supra X yang biasa Bapak pakai sudah dipakai Akrom. Katanya ban Scoopy-nya kempes.”
Sekejap rasa kaget dan sedikit marah muncul. Hari ini bukan hari biasa. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan motor Supra X itulah yang biasa menemani perjalanan tugas saya. Sempat terlintas untuk menghubungi bengkel Wijaya, tempat langganan servis motor anak saya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Namun, setelah saya periksa sendiri, ternyata ban Scoopy tidak terlalu kempes. Masih bisa diatasi—cukup ditambah angin.
Setelah mandi dan sarapan, saya memutuskan berangkat menggunakan Scoopy. Istri saya lebih dulu pergi mengantar Akrom ke Pondok Pesantren Al Fath Jalen. Keberangkatan yang seharusnya kemarin tertunda karena ia sempat sakit dan harus berobat ke klinik di daerah Pisangan. Alhamdulillah, malam sebelumnya langsung ditangani dokter dan kondisinya membaik.
Di tengah perjalanan, saya singgah di bengkel langganan. Dengan nada sederhana saya berkata, “Pak, tolong ditambahkan anginnya. Sepertinya kurang.”
Setelah dicek, ternyata bannya tidak bocor, hanya sedikit kempes. Namun, yang mengejutkan, ban tersebut penuh dengan tambalan—jejak perjalanan panjang dan kurangnya perhatian. Saya pun teringat pada satu hal lain yang sering luput: oli.
“Sekalian cek olinya, Pak. Saya tidak tahu ini sudah diganti atau belum,” pinta saya.
Mekanik itu mengangguk. Tak lama kemudian ia berkata, “Pak, olinya hampir habis. Di dalamnya seperti ada lumpur. Ini berbahaya. Bisa jadi olinya palsu.”
Hati saya langsung terenyuh. Beberapa bulan lalu, kejadian serupa pernah terjadi hingga mesin motor harus turun karena kerusakan parah akibat oli yang tidak layak. Sebuah kelalaian kecil, dampaknya begitu besar.
“Kalau begitu, tolong ganti saja dengan yang baru,” jawab saya mantap.
Oli Federal pun dituangkan, angin ban depan dan belakang ditambah hingga pas. Semua beres dengan biaya Rp.55.000. Saya mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang.
Pagi itu saya belajar satu hal penting: kendaraan bukan hanya untuk dipakai, tetapi juga untuk dirawat. Perhatian kecil—seperti mengecek oli dan kondisi ban—adalah bentuk tanggung jawab yang sering kita remehkan. Padahal, kelalaian kecil bisa berubah menjadi kerusakan besar, bahkan pembengkakan biaya yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan harian keluarga.
Semoga kisah pagi ini menjadi pengingat bagi siapa pun. Bahwa mencegah selalu lebih baik daripada memperbaiki. Merawat hari ini, adalah menyelamatkan kita dari penyesalan di kemudian hari.
Penulis: Marolah Abu Akrom (Jurnalis media SinarLIMA)

.png)
Comments
Post a Comment