Cerpen Ke-18: Adzan yang Terlupa, Ukhuwah yang Terjaga
Cerpen Ke-18: Adzan yang Terlupa, Ukhuwah yang Terjaga
Selasa pagi, 20 Januari 2026, seperti hari-hari biasanya, saya berangka¹t ke Masjid At-Tawwabin sebelum azan subuh berkumandang. Masjid ini berada di Perumahan Villa Gading Harapan 2, Blok A, Desa Sriamur, Tambun Utara, Bekasi. Sebagai seorang jamaah sekaligus imam salat berjamaah, kehadiran di masjid pada waktu subuh sudah menjadi bagian dari rutinitas dan tanggung jawab saya.
Sesampainya di masjid, saya mendapati bahwa yang mengumandangkan azan adalah Bapak Castub, salah seorang sesepuh sekaligus tokoh masyarakat di lingkungan perumahan kami. Namun, pagi itu terasa ada yang berbeda. Azan subuh dikumandangkan tanpa menggunakan pengeras suara, padahal lampu-lampu masjid tampak menyala seperti biasa.
Usai azan, saya sempat menanyakan hal tersebut dan mendapat penjelasan dari Ketua DKM Masjid At-Tawwabin, Bapak Didik Sukardi. Beliau menyampaikan bahwa saluran listrik untuk pengeras suara berbeda dengan saluran lampu, sehingga meskipun lampu menyala, belum tentu pengeras suara berfungsi dengan baik.
Dalam pelaksanaan azan tersebut, terjadi kekeliruan kecil. Setelah bacaan “ash-shalātu khairum minan-naum”, Pak Castub langsung mengakhiri azannya, padahal seharusnya ditutup dengan bacaan “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, lā ilāha illallāh.” Saya pun segera mengingatkan beliau dengan sopan.
“Pak, azannya belum selesai,” ujar saya.
Beliau tersenyum lalu menjawab dengan jujur, “Saya sudah tua, jadi wajar kalau terjadi kelupaan.”
Saya pun menimpali dengan penuh keakraban, “Jangankan orang tua, Pak. Anak muda saja bisa lupa. Maklum, manusia memang tempat salah dan lupa.”
Mendengar itu, beliau mengangguk, lalu segera melanjutkan azannya hingga tuntas dengan bacaan penutup yang semestinya.
Akibat tidak berfungsinya pengeras suara, pagi itu jumlah jamaah yang hadir sangat sedikit. Banyak warga yang biasanya menunggu azan dan iqamah dari masjid sebelum berangkat berjamaah. Bahkan jamaah ibu-ibu pun tidak tampak hadir mengikuti salat subuh berjamaah.
Setelah salat berjamaah selesai, saya menyampaikan hal ini kepada Bapak H. Nalih. Beliau adalah salah seorang jamaah aktif salat berjamaah sekaligus marbot Masjid At-Tawwabin. Saya memohon agar pengeras suara segera diperiksa.
Pak H. Nalih menyampaikan bahwa kemungkinan besar masalahnya terletak pada sakelar yang sudah berkarat, logamnya melemah, atau kabelnya terputus. Dugaan tersebut semakin kuat setelah terlihat banyak semut keluar masuk di area sakelar, yang besar kemungkinan bersarang dan mengganggu instalasi listrik. Beliau pun menyampaikan kesiapannya untuk segera memperbaiki sakelar tersebut pada hari ini, setelah agak siang.
Dari peristiwa sederhana ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga. Bahwa dalam hal apa pun, termasuk dalam ibadah seperti azan, manusia tidak luput dari salah dan lupa. Oleh karena itu, kita tidak perlu ragu untuk saling mengingatkan dengan cara yang baik, santun, dan penuh adab. Begitu pula ketika terjadi kendala atau kerusakan, hendaknya segera ditelusuri dan ditangani bersama, atau meminta bantuan kepada orang yang lebih memahami.
Beginilah indahnya kehidupan dalam sebuah komunitas yang dilandasi kebersamaan, kepedulian, dan keakraban, di mana setiap kekurangan dapat ditutupi dengan saling menguatkan.
Penulis:
Marolah Abu Akrom / Ust. Amrullah
Jurnalis Media SinarLIMA
Guru BK SMP Laboratorium Jakarta dan SMP Nahdlatul Wathan Jakarta

Comments
Post a Comment